Persembahan Anak-Anak Indonesia: Jangan Berhenti Bermimpi

 

 

IPA Voices Feature

Oleh Maulana Bachtiar,

Pada akhir Juni 2012 lalu, lima siswa SMA Indonesia didatangkan ke Singapura. Mereka diterbangkan dari dua kota non-metropolitan, Pontianak (Kalimantan Barat) dan Surakarta (Jawa Tengah) atas inisiatif program beasiswa Scholarship for Indonesia (scholar4id). Selama tiga hari, selain diperlihatkan berbagai hal, kelima murid ini juga diberi berbagai macam pelatihan. Tujuannya untuk membantu mempersiapkan pendaftaran beasiswa ke perguruan tinggi di dalam ataupun luar negeri.

Siapa sangka bahwa membeli minuman ringan dari vending machine itu merupakan hal yang istimewa? Mungkin sudah sangat biasa bagi anda di Singapura, namun hal yang sama tidak dirasakan oleh mereka (baca selengkapnya di esai Hedi Suryadi).

Teruslah kita ingat bahwa masih banyak sekali saudara-saudara kita yang belum berkesempatan melihat ‘negeri orang’, apalagi bersekolah di sana. Ironis, karena banyak dari mereka yang justru berbakat dan berpotensi besar, tapi malah minim fasilitas untuk berkembang.

Hal inilah yang mendorong segelintir pemuda Indonesia di Singapura untuk membantu dan membuka peluang pendidikan bagi saudara-saudaranya, agar bisa menerobos situasi ketidak adilan yang mereka alami. scholar4id bervisi untuk membuka kesempatan pendidikan bagi para pemuda Indonesia di manapun.

Pada kesempatan ini, IPA Voices pun ikut terjun. Kami laksanakan workshop menulis yang dirancang khusus untuk angkatan pertama penerima beasiswa scholar4id tersebut. Pada pelatihan ini, kami paparkan berbagai tips menulis mulai dari pembuatan kerangka esai sampai contoh-contoh penulisan yang baik.

Di akhir acara, selain dibekali tips agar mereka bisa belajar secara mandiri, seluruh peserta juga diminta untuk membuat pekerjaan rumah yaitu menulis esai sesuai tema yang telah diberikan. Berikut kami persembahkan hasil karya lima siswa penerima beasiswa scholar4id angkatan pertama.

 

Hedi Suryadi: Pengalaman Unik di Singapura

Oleh Hedi Suryadi, SMA Negeri 1 Pontianak, Kalimantan Barat

Hal-hal baru, menarik, dan berkesan yang kita alami itu selalu menjadi pengalaman unik. Itu juga yang saya alami ketika pertama kalinya datang ke Singapura. Esai ini ditulis sebagai tugas dari tim IPA Voices saat workshop di Singapura dalam program Visit Overseas 2012 dari pihak Scholarship for Indonesia (scholar4id). Hedi Suryadi, inilah nama yang diberikan oleh orang tua saya sekitar 15 tahun lalu. Saya lahir dan menetap di kota Pontianak, Kalimantan Barat. Tidak pernah terbayangkan oleh saya untuk menginjakkan kaki di luar negeri karena kondisi ekonomi keluarga yang hanya mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari maka untuk jalan-jalan ke luar kota saja sulit apalagi keluar negeri. Kalau begitu, mengapa saya bisa menginjakkan kaki di Singapura? Karena kemurahan dan kemuliaan hati pihak Scholarship for Indonesia dan para donatur yang bekerja sama dalam program beasiswa.

”Nulla dies sine linea : Tak ada hari tanpa suatu coretan pensil; tiada hari berlalu tanpa dimanfaatkan”- (Apelles).[1] Banyak pengalaman unik yang membuka wawasan saya dalam mengikuti program Visit Overseas dari pihak Scholar4id pada tanggal 29 Juni 2012 - 2 Juli 2012 di Singapura. Angkatan penerima beasiswa pertama terdiri dari saya dan Zaenal Muttakin dari kota Pontianak diikuti oleh 3 siswa lainnya dari kota Solo yaitu Jessica Primanita Ramadhani, Wida Shiddikara Perwitasari, dan Joshua. Saya dan keempat siswa lainnya yang menerima beasiswa ini mengunjungi tempat menarik di Singapura dan bertemu mahasiswa serta para donatur di sana. Pengalaman-pengalaman unik yang diceritakan dalam esai ini dibagi menjadi pengalaman dalam empat hari. Namun sebelum saya menceritakannya, saya awali dengan penjelasan singkat tentang Singapura yang saya alami sendiri pada kesan pertama, penjelasan tim scholar4id, dan riset yang saya lakukan.

Kesan pertama saya menginjakkan kaki di Singapura yaitu negaranya berbeda jauh dengan Indonesia yang jalannya penuh sampah bertebaran dan jalan berlubang-lubang, kalau di Singapura sepanjang jalan terawat dengan bersih dan rapi. Singapura juga kreatif dalam memanfaatkan lahan yang tersedia agar lebih maksimal. Di sepanjang jalan banyak saya temui percampuran suku yang terdiri dari: Cina, Melayu, dan India. Sistem jalan umum dilayani oleh angkutan bus dan taksi. Sistem kereta penumpang Mass Rapid Transit (MRT) dioperasikan sampai kawasan pemukiman. EZ-Link digunakan sebagai pembayaran alternatif yang digunakan pada angkutan umum di Singapura. EZ-Link adalah kartu pintar yang didekatkan pada alat pembacanya dan jumlah uang berkuang sendiri sesuai jarak yang di tempuh. Tim Scholar4id menceritakan bahwa makan-makan dan belanja sudah menjadi hiburan warga Singapura. Beberapa tempat makan memiliki semua jenis makanan dari Britania, Cina, India, Melayu, Tamil, dan Indonesia yang salah satunya saya temui di foodcourt NUS. Tim Scholar4id juga menceritakan bahwa pemerintah Singapura melarang pengajaran agama di sekolah-sekolah karena terbukti bahwa pelajaran tersebut membuat para siswa semakin terpisah satu dengan yang lainnya.

Ada guru yang mengajak siswa-siswa untuk mempelajari agama tertentu sehingga terjadi ketegangan di sekolah. Pemerintah menyatakan bahwa pelarangan pelajaran agama di sekolah tidak menghambat masyarakat untuk menjalankan agama masing-masing. Walaupun demikian, Singapura terbukti dikenal lebih tertib hukum dan pemerintahan yang bersih. Berbeda dengan Indonesia yang begitu religius. Hal positif dari kereligiusan itu ada namun hal negatif juga banyak terjadi seperti korupsi yang terjadi di mana-mana terutama di bangku pemerintahan.[2] 

Jumlah penduduk Singapura memiliki persentase warga asing tertinggi keenam di dunia. Sekitar 42% penduduk Singapura adalah warga asing dan mereka membentuk 50% sektor jasa di negara itu. Kebanyakan berasal dari Cina, Malaysia, Filipina, Amerika Utara, Timur Tengah, Eropa, Australia, Bangladesh dan India. Negara ini merupakan yang terpadat kedua di dunia setelah Monako. Menurut statistik pemerintah, jumlah penduduk Singapura pada 2009 sebanyak 4,99 juta jiwa, 3,73 juta jiwa di antaranya merupakan warga negara dan penduduk tetap Singapura (disebut Singapore Residents). Jumlah warga negara pada tahun 2009 adalah 3,2 juta jiwa. Berbagai kelompok bahasa Cina membentuk 74,2% dari penduduk Singapura, Melayu 13,4%, India 9,2%, sementara Eurasia, Arab dan kelompok lain membentuk 3,2% dari populasi Singapura. Pemerintah Singapura mengakui empat bahasa resmi: Inggris, Melayu, Mandarin, dan Tamil. Bahasa Inggris adalah bahasa paling dominan di Singapura, tidak seperti negara tetangganya, Malaysia dan Indonesia, tempat bahasa Melayu menjadi bahasa dominan. Di antara warga Singapura, bahasa Inggris memiliki jumlah penutur terbanyak. Jumlah ini diikuti oleh bahasa Mandarin, Melayu dan Tamil.[3]

Campuran suku dan bahasa bukannya mendiskriminasi tetapi menjadi hal yang unik karena disatukan dalam satu negara. Pemerintah juga memerintahkan keharmonisan hubungan antar masyarakat.[4] Namun, masyarakatnya lebih individualis (mementingkan diri sendiri ) dan tidak ramah. Tetapi jika dilihat dari kalangan pelajar dan mahasiswa sepertinya kebersamaan masih erat karena pengalaman yang diceritakan oleh beberapa anggota tim Scholar4id bahwa mereka sering belajar bersama dengan teman mereka. Pastilah ada hubungan akrab yang terjalin. Ini membedakan dari masyarakat Indonesia yang begitu ramah dan terkenal saling memperdulikan satu sama lain. Teknologi yang begitu canggih juga mengakibatkan kurangnya komunikasi yang terjalin.

Pengalaman unik hari pertama yaitu ketika baru sampai di Bandara Changi Terminal 2 lalu dijemput ke Footprints Hostel, banyak hal baru yang ditemui di jalan seperti yang saya kemukakan di awal tentang desain jalan di Singapura yang kreatif dan kebersihannya. Ketika sampai di Footprints Hostel, beberapa saat kemudian datanglah teman-teman kami dari Solo dan baru pertama kali saya berhadapan dengan teman yang begitu muslimah yaitu Wida. Dia tidak mau bersentuhan dengan yang bukan muhrim. Selama ini saya kira yang ada di sinetron-sinetron itu tidak benar-benar ada dalam dunia nyata tetapi ternyata ada. Setelah itu saya dan Zaenal diajak ke rumah makan India yang aromanya agak aneh. Makanan yang disajikan juga aneh teksturnya, aroma, maupun bumbu-bumbunya. Setelah itu, kami dan tim Scholar4id mengunjungi SIM (Singapore Institute of Management). Di sini kami disosialisasikan tentang universitas oleh InSIM. InSIM adalah sebuah komunitas mahasiswa Indonesia di SIM. Setelah dari SIM, kami ke SMU (Singapore Management University). Kami hanya berkeliling sebentar di sini tetapi ternyata universitas ini sudah menjadi seperti layaknya sebuah mal. Malam harinya ada yang unik, kami dan tim Scholar4id ke Wendy’s Restaurant. Saya dan Joshua tersesat mencari toilet, setelah bolak-balik beberapa kali akhirnya kami bertanya pada seorang bapak dalam bahasa Inggris. Jantung kami berdebar begitu kencang karena baru pertama kali kami berbicara dengan orang asing menggunakan bahasa Inggris. Malam ini kami akhiri dengan menonton “MBS (Marina Bay Sands) Lightshow”. Kami menonton bagaimana cerita tentang kehidupan berawal dan berakhir. Saya merasa semakin mensyukuri atas karunia kehidupan yang diberikan Sang Pencipta. Pertunjukan ini mempermainkan perpaduan antara laser, api, dan air yang ditonton secara gratis.

Pengalaman unik hari kedua yaitu kami berlima dan beberapa dari tim Scholar4id mengunjungi NUS di U-Town untuk mengikuti tiga workshop yang terdiri dari workshop presentasi, workshop penulisan esai, dan workshop wayang. Workshop presentasi diajarkan oleh tim Scholar4id. Workshop ini mengajarkan cara presentasi, tata cara bicara, dan ekspresi tubuh yang baik untuk wawancara beasiswa kuliah nantinya. Namun sebelum diajarkan, kami diberi proyek presentasi. Baru pertama kalinya kami diberi tugas presentasi dengan persiapan selama 15 menit yang secepat kilat. Selanjutnya kami mengikuti workshop penulisan esai yang diajarkan oleh tim IPA Voices. IPA Voices adalah kelompok jurnalis online yang beranggotakan profesional Indonesia yang bekerja di Singapura. Dalam workshop ini kami diajarkan bagaimana menjawab dan menulis esai-esai yang disyaratkan dalam pendaftaran beasiswa di Indonesia dan luar negeri. Betapa besar manfaat yang kami dapat dari kedua workshop ini. Kemudian, kreativitas dan imajinasi kami dalam membuat wayang dan bercerita digali dalam workshop wayang yang diajarkan oleh Kak Agnes Christina (tim Scholar4id). Hari ini diakhiri oleh acara yang sudah ditunggu-tunggu oleh saya yaitu Barbekiu. Acara yang dirancang oleh tim Scholar4id untuk mempertemukan penerima beasiswa dengan para donatur yang selama ini membantu Scholar4id. Di malam keakraban ini banyak pertukaran anjuran yang bermanfaat dan menambah wawasan. Saya merasakan bahwa acara ini mengesankan, menarik, dan menghangatkan hati.

Pengalaman unik hari ketiga yaitu mengunjungi NTU (Nanyang Technological University). Perjalanan menggunakan MRT kesini memakan waktu yang cukup lama dibandingkan perjalanan ke tempat lainnya. NTU ini terkesan akan arsitektur bangunan yang unik dan beraneka ragam dengan daerah berbukit-bukit. Setelah berkeliling NTU cukup lama, kami dan tim Scholar4id mampir sebentar di Kantin NTU untuk beristiharat. Di sini ada benda unik dengan teknologi yang belum pernah saya temukan. Apakah itu? Ada lemari minuman yang bisa dikatakan memiliki persamaan dengan telepon umum, namun versi minuman. Uang logam dimasukkan, memilih minuman dengan menekan pilihan minuman yang kita inginkan, lalu tunggu beberapa saat sampai alat penunjuk menunjukan minuman selesai dibuat kemudian minuman diambil dari sebuah kotak dan langsung bisa dihidangkan.

Terik matahari mulai menyengat maka kami pergi ke “Garden by the Bay”. Tempat wisata baru dengan taman buatan di tepi sungai Singapura ini begitu menyegarkan. Di sini tanaman diimpor dari berbagai belahan dunia kemudian dibudidayakan sesuai iklim aslinya. Awalnya saya kira di sini hanya tanaman-tanaman, ternyata salah. Di ruangan tertentu ada animasi-animasi unik yang menjelaskan problem alamiah seluas dunia dan juga ada video yang memotivasi kita agar lebih peduli akan kelestarian alam. Setelah ini kami ke Sentosa untuk menonton “Songs of the Sea”. Pertunjukan di sini hampir mirip dengan “MBS Lightshow” karena mempermainkan perpaduan antara api, laser, dan air tetapi uniknya ada dipertunjukan pembawaan cerita dari suatu teater musikal yang erat kaitannya dengan pertunjukan api, laser, dan air beserta animasi kartu yang dirancang dengan menarik. Pertunjukan ini mengajarkan untuk tidak pantang menyerah dan memiliki semangat seperti kobaran api sampai impian terwujud. Lalu, kami pulang sambil melewati jalan yang ada Merlion. Merlion ini adalah patung berkepala singa dengan ekor ikan. Selama ini saya hanya menonton dan membaca dari buku tetapi sekarang saya bisa melihatnya langsung. Setelah kembali ke Footprints Hostel kami dan tim scholar4id bersiap-siap untuk ke sebuah tempat makan yang dekat dengan tempat penginapan kami. Di sana kami bertukar anjuran dan ada pelajaran yang saya dapat yaitu tetap semangat mengejar mimpi dan melihat segala sesuatu dengan pandangan yang luas. Malam ini merupakan perpisahan kami dengan beberapa anggota tim Scholar4id.

Pengalaman hari terakhir kami berangkat dari tempat penginapan ke Bandara Changi. Keberangkatan pesawat Solo lebih dahulu dibandingkan Pontianak. Jadi, saya dan Zaenal beserta beberapa dari tim Scholar4id ke TOAST BOX untuk minum dan makan sebentar. Saya takjub akan proses pembuatan teh di sana karena mereka awalnya menuang teh dekat dengan cangkir namun lama kelamaan makin ke atas dan semakin tinggi lalu perlahan menurun secara cepat. Sebelumnya saya tidak pernah menemukan hal seperti ini.

Selama mengikuti program “Visit Overseas” dalam 4 hari dan 3 malam, saya bisa melihat bahwa dunia itu luas dan Singapura merupakan negara yang teknologinya, kebersihannya, ketertibannya jauh lebih baik daripada Indonesia. Namun Indonesia juga memiliki kelebihan seperti solidaritas yang kuat, keramahan, dan norma yang masih di pegang kuat tidak seperti Singapura yang sudah memudarnya norma-norma karena pengaruh dari Barat. Jadi, masing-masing negara memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tiada gading yang tak retak. Seperti itu juga halnya dengan negara. Dalam pertukaran anjuran dengan tim Scholar4id maupun para donatur, saya mendapat banyak pelajaran berharga untuk tidak mudah menyerah, bertekun, semangat untuk mengejar mimpi, memandang sesuatu dari berbagai sisi, dan mencoba hal lain yang belum tahu untuk di pelajari. Wawasan kami juga semakin luas dengan 3 workshop yang diberikan. Akhirnya saya mengucapkan terima kasih kepada tim Scholar4id, tim IPA Voices beserta para donatur yang membantu selama ini. Jangan berhenti bermimpi.

Demikianlah esai yang saya tulis sesuai dengan faktanya. Terima kasih.

Pontianak, 8 Juli 2012 

                                                            Hedi Suryadi 

Referensi:

[1]  H.M. Iwan Gayo, Buku Pintar Seri Senior, Edisi 41. Jakarta : Pustaka Warga Negara, 2007, hlm. 794.

[2]  http://biologimediacentre.com/belajar-dari-cara-singapura-memperlakukan-agama/comment-page-1/. Diakses : 7 Juli 2012.

[3] Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.”Singapura”(online). Dari: http://id.wikipedia.org/wiki/Singapura Diakses: 7 Juli 2012.

[4] Li-ann Thio.” 'Control, co-optation and Cooperatives: Managing Religious Harmony in Multi-Ethnic Singapore State, Quasi-Secular State.” – Terjemahan bahasa Inggris ke bahasa Indonesia(online). Dari : http://nus.academia.edu/LiannThio/Papers/316518/Control_Co-optation_and_Co-Operation_Managing_Religious_Harmony_in_Singapores_Multi-Ethnic_Quasi-Secular_State_ Diakses : 7 Juli 2012.

 

Jessica Primanita Ramadhani: Hobi dan Aktivitas di Waktu Luang

Oleh Jessica Primanita Ramadhani, SMA Negeri 1 Surakarta, Jawa Tengah

Do what you love and love what you do.” –Chris Walker. Quote itu sangat sering kita dengar, maka dari itu tidak heran jika banyak orang yang terinspirasi dan melakukan apa yang mereka suka dan menjalaninya dengan sepenuh hati. Itulah yang saya sebut sebagai hobi. Hobi saya adalah menari tetapi aktivitas yang sering saya lakukan di waktu luang bermacam-macam karena waktu luang yang saya miliki pun tidak selalu sama, setiap hari berbeda. Paragraf-paragraf di bawah ini akan menjelaskan tentang seluk beluk hobi saya, menari, dan aktivitas yang biasa saya lakukan jika saya memunyai waktu luang.

Menari adalah hobi saya sejak kecil. Sejak kecil pula saya sudah sering ikut pentas dan lomba-lomba tari. Banyak suka duka di dalamnya. Karena di setiap perlombaan tidak selalu saya bisa menang, kadang saya harus menerima pahitnya kekalahan. Namun justru kegagalanlah yang mengajarkanku tentang kesabaran. Sabar untuk mempelajari tarian baru, sabar untuk menunggu lomba yang lain, bahkan sabar untuk menerima kekalahan dengan lapang dada. Semuanya terasa menyenangkan. Apalagi setelah saya masuk sanggar tari. Karena saya banyak bertemu teman-teman baru, guru baru, suasana baru, dan tarian baru pastinya. Dan hal itu semakin membuat saya belajar tentang makna dari hobi itu sendiri. Karena banyak di antara guru dan teman saya yang hidup dengan menari. Menari ternyata bukan sekedar menari. Diperlukan bakat, latihan, dan pengalaman yang cukup untuk bisa menari dengan baik. Tidak hanya itu, kesempatan dan keberuntungan pun terkadang juga sangat berpengaruh. Karena itu selagi saya masih mempunyai kesempatan dan cukup beruntung bisa belajar menari di sanggar, saya akan memanfaatkannya sebaik mungkin supaya menari itu tidak hanya sekedar hobi namun dapat juga sebagai sumber penghasilan, minimal untuk saat ini. Karena beberapa kali saya juga mendapat tawaran untuk menari di pernikahan orang dan mendapatkan upah. Memang tidak seberapa, tapi perasaan senang karena mendapat penghasilan dari keringat sendiri itu sangatlah berbeda. Saya merasa beruntung dikaruniai bakat menari dan saya ingin hobi saya ini dapat bermanfaat bagi diri saya dan orang lain. Untuk itu saya juga kadang mengajarkan tarian kepada teman-teman. Bukan untuk kursus, tetapi karena teman-teman yang meminta saya. Banyak alasan, ada yang karena ia ingin mengikuti seleksi paski, ada juga yang buat pertunjukan di kelompoknya. Dari situ juga saya semakin menyadari bahwa hobi itu pasti akan berguna jika kita menjalankannya dengan sepenuh hati.

Walaupun saya sangat menyukai menari, namun tidak setiap hari saya menari. Hanya pada hari Rabu dan Sabtu saja saya berlatih menari di sanggar. Lalu di hari-hari lain, saat saya mempunyai waktu luang, lebih saya manfaatkan untuk mambantu orang tua dan bersantai. Biasaya sehabis pulang sekolah yaitu sekitar pukul dua siang, saya makan siang lalu bersantai, entah itu menonton televisi ataupun bermain dengan adik saya. Walaupun adik saya laki-laki, tapi saya sering menemani bahkan ikut bermain dengan adik saya, seperti main beyblade (sejenis gasing), mobil-mobilan, robot-robotan, dll. Hal itu membuat saya lebih akrab dengan adik saya dan jarang terjadi pertengkaran di antara kami. Bukan berarti tidak pernah, terkadang kami juga bertengkar namun biasanya pertengkaran itu tidaklah lama karena kami selalu saling meminta maaf, entah saya duluan atau adik saya duluan. Karena sejak kecil kami selalu diajarkan untuk tidak malu meminta maaf jika memang maaf itu membuat lebih baik. Selain bermain dengan adik, saya juga biasanya menonton televisi sepulang sekolah, kira-kira 2 jam saya menonton televisi. Sebenarnya tergantung acaranya, kalau drama memang biasanya 2 jam selesai tetapi kalau konser musik terkadang bisa lebih dari itu. Tapi itu jarang saya lakukan, dan kalaupun dilakukan biasanya acara itu tayang pada hari Sabtu malam jadi tidak masalah jika tidurnya agak malam. Lalu saat sore hari, waktu luang saya gunakan untuk membantu orang tua. Biasanya saya bertugas untuk menyapu halaman dan mencuci piring. Hal itu saya lakukan setiap hari karena saya dididik dari kecil untuk selalu membantu orang tua melakukan pekerjaan rumah. Dan setiap hari Minggu pagi, saya biasanya mencuci baju. Setelah membantu orang tua, malam harinya tidak banyak waktu luang karena waktu yang ada saya gunakan untuk mengerjakan PR. Tapi kalau sedang tidak ada PR, waktu luang yang ada saya gunakan untuk membaca novel. Dan novel yang sering saya baca adalah novel remaja, mungkin karena saya seorang remaja jadi cerita-cerita yang ada kebanyakn mirip dengan dunia remaja saya. Karena itu saya suka membaca novel remaja. Tetapi terkadang saya juga sering membaca buku-buku tentang sejarah, terutama sejarah Jawa, serta buku-buku tentang cerita Jawa. Misalnya saja Mahabharata, buku yang aslinya berasal dari India ini banyak mempengaruhi cerita-cerita yang berkembang di Jawa. Banyak kisah-kisah heroik dan bermakna yang termuat dalam buku ini. Semuanya tak lepas dari pengajaran empat tujuan hidup manusia yaitu Dharma (kebenaran), Artha (kemakmuran), Kama (kepuasan hasrat), dan Moksa (keselamatan spiritual). Karena itulah saya merasa tertarik membaca buku-buku sastra lama karena banyak pengajaran-pengajaran hidup yang dapat kita ambil. Dan tidak hanya dalam bentuk buku, sebenarnya pertunjukan wayang itu adalah bentuk visualisasinya. Kalau kita memperhatikannya dengan baik, banyak sekali amanat yang disampaikan melalui cerita wayang tersebut yang sangat relevan dengan keadaan sekarang ini. karena itulah istimewanya sastra lama, walaupun dibuat pada zaman dahulu namun nilai-nilai yang terkandung di dalamnya masih relevan dengan keadaan di zaman sekarang. Dan setelah saya mendapat pengalaman workshop tentang menulis esai, saya semakin menyadari bahwa membaca itu sangat penting, karena dengan membaca kita dapat menulis.

Begitulah aktivitas-aktivitas yang saya lakukan setipa harinya, terutama pada saat waktu luang. Setiap saat adalah berharga, maka dari itu jangan sia-siakan waktu yang kita punya. Manfaatkanlah waktu luang kita untuk melakukan hal-hal yang dapat membuat kita senang dan dapat bermanfaat bagi kita juga orang lain. Terima kasih.

 

Wida Siddhikara Perwitasari: Pelajaran dan Guru Favorit

Oleh Wida Siddhikara Perwitasari, SMA Negeri 1 Surakarta, Jawa Tengah

Mempermudah yang Rumit

Hidup penuh pemikiran memang terkesan rumit dan perfeksionis. Namun, pemikiran itu penting. Terlebih pemikiran yang kreatif dan inovatif. Kriteria-kriteria tersebut, sering kita temui dalam Matematika, pelajaran favoritku.

Sulit untuk dielak, bahwa Matematika tidak bisa lepas dari kehidupan kita. Menghitung, mengukur, menyesuaikan, bertransaksi, bahkan waktu yang kita gunakan adalah pinjaman dari Matematika.

Matematika ada, bukan untuk sekedar dikenal, tetapi untuk kita pelajari, pahami dan kita gunakan manfaatnya. Sehingga hidup pun akan lebih mudah dan penuh inovasi. Menurut saya, dalam belajar Matematika dibutuhkan kreativitas. Bagaimana tidak, satu soal saja terdapat berbagai macam cara penyelesaiannya. Seperti kata pepatah, “Banyak jalan menuju Roma.” Oleh karenanya, mahir tidaknya seseorang dapat kita lihat dari seberapa kreatif dia dalam menyelesaikan sebuah soal. Semakin cepat dan praktis cara yang digunakan, maka semakin tinggi tingkat kreativitas seseorang.

Bisa tidaknya saya menyelesaikan teka-teki Matematika, tentu ada dalang di balik layar. Bukan berarti apa, namun keberhasilan saya merupakan keberhasilan seseorang dalam membuat saya berhasil.

Pada awalnya, saya adalah seorang yang peragu. Banyak ide yang hanya tertahan di dalam angan. Sering kali saya mengerjakan soal Matematika dua kali dengan cara yang berbeda. Terlebih, apabila rumus yang disarankan guru terasa rumit, maka saya akan memilih jalan lain untuk menyelesaikannya. Mengutak-atik angka merupakan pekerjaan yang menyenangkan. Kemudian, setelah didapatkan angka yang dirasa sebagai jawaban, saya akan mengerjakannya ulang soal tersebut menggunakan rumus yang disarankan dengan cara menghitung mundur. Itulah yang  membuat saya lama dalam mengerjakan Matematika.

Sifat peragu saya ini ternyata diketahui oleh Ibu Endah. Guru Matematika sewaktu saya masih mengenyam pendidikan di SDIT Nur Hidayah Surakarta. Suatu kali, beliau memuji cara saya menyelesaikan soal Matematika, beliau juga membenarkan cara yang kulakukan. Seakan-akan melarang saya untuk mengerjakan kembali dan menghapus keraguan yang kurasa. Mulai saat itu, saya mencoba membiasakan diri mengerjakan sekali untuk yang terbaik.

Masa putih merah telah berlalu. Namun, dukungan itu nyata sampai sekarang. Tanpa saya sadari, tampil untuk beda tidak hanya tercipta ketika mengerjakan Matematika saja. Kini saya mempunyai gaya sendiri, cara memandang, berpikir, maupun bertindak. Itulah salah satu dampak peranan guru Matematika bagi saya. Beliau selalu meyakinkan, bahwa beda itu tidak masalah, perbedaan itu indah, asal kamu tidak membedakan apa yang seharusnya sama.

Sejauh ini, hampir semua guru favorit saya sejalan dengan mata pelajaran favorit saya. Bukan karena pekerjaan mereka yang mengajar Matematika, namun dikarenakan metode pengajarannya yang kreatif dan tidak monoton. Guru yang mampu membuat muridnya nyaman dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), menurut saya salah satu penunjang kesuksesan seorang murid. Sebaliknya, guru yang kurang berhasil dalam beradaptasi dengan muridnya, akan mengurangi semangat belajar sang murid.

Kedekatan saya dengan guru Matematika, semakin menambah ketertarikan saya untuk lebih giat memperdalam Matematika. Saya pun juga memiliki cita untuk menyebarluaskan uniknya Matematika melalui profesi dosen yang akan saya sandang kelak.

Dengan kepercayaan yang telah diberikan oleh “Scholarship for Indonesia” kepada saya, merupakan tambahan semangat untuk menggenggam piala di tahun ajaran baru nantinya. Amin.

 

Yosua: Kotaku, Keluargaku, dan Rumahku

Oleh Yosua, SMA Negeri 1 Surakarta, Jawa Tengah

Keluarga, kota, dan rumahku? Jujur saja menurutku tidak ada yang terlalu istimewa dari keluarga, kota, dan rumahku menurut pandangan pribadiku. Pepatah bilang “bola di matamu belum tentu bola di mata orang lain”, apa yang kau lihat belum tentu sama di pandangan orang lain kan? Baiklah tanpa basa-basi lagi akan saya ceritakan tentang kehidupanku termasuk keluarga, rumah, dan kotaku.

Aku hidup di dalam keluarga yang sederhana dan aku juga tidak memiliki adik ataupun kakak, jadi kami hanya hidup bertiga hingga sekarang ini. Kenapa aku tidak punya kakak? Wah, kalau itu aku kurang tahu. Tapi kenapa aku tidak punya adik? Jawabannya adalah karena aku tidak mau. Alasannya? Aku adalah orang yang cinta ketenangan, jadi menurut hipotesisku “seorang adik” itu akan dengan setia mengganggu ketenanganku. Apalagi banyak cerita dari teman-teman kalau adik mereka itu menyebalkan. Yes! Pernyataan yang memperkuat hipotesisku! Terserah kalau orang-orang menganggapku egois dan menyebalkan, tapi aku butuh ketenangan untuk konsentrasi belajar, main game, dan makan. Ada juga anggota keluargaku yang sifatnya menyebalkan selain aku, yaitu ayahku. Setiap aku bicara sama ayahku ada saja cara ayahku untuk membuat aku jengkel, entah itu bicaranya nggak nyambung, entah itu tidak kedengaran, dan 1001 cara lain. Apalagi kalau ayahku sedang bicara dengan ibuku yang orangnya cepat marah. Bisa dibayangkan jadinya seperti apa. Tentu saja tidak selamanya ayah dan ibuku seperti itu.

Suka dan duka kami jalani bersama, tak terasa sudah 17 tahun aku hidup dengan keluargaku yang bahagia ini. Banyak kenangan indah dan menyenangkan bersama keluargaku. Tetapi kehidupan itu tidak selalu berjalan mulus sesuai dengan apa yang diharapkan. Ada kalanya keluargaku bahagianya bukan main, tetapi juga ada saatnya keluargaku “sepanas” di medan perang. Dulu pernah waktu orang tuaku berkelahi, suasananya seperti perang dingin. Saling diam satu sama lain hingga beberapa hari. Kalau misalnya kau berada dalam perang dinginnya keluargaku, makanan seenak apapun yang tersaji diatas meja langsung terasa hambar dan tidak enak. Untunglah “perang” di keluargaku selalu berakhir dengan happy ending dengan saling berdamai. Pernah juga waktu itu aku bertengkar dengan orang tua lalu aku menyesal dan marah pada Tuhan, “Kenapa Engkau tempatkan aku di keluarga ini Tuhan? Engkau pasti salah menaruh aku di keluarga ini!”. Semakin dewasa aku semakin menyadari dan aku bisa bersyukur buat keluarga yang Tuhan berikan padaku ini.

Aku dan keluargaku tinggal dirumah yang sederhana, luas tidak, tingkat juga tidak, mewah apalagi, pokoknya benar-benar pas untuk dihuni 3 orang. Tetapi yang jadi kekurangan rumahku adalah lantainya yang belum pernah jadi hingga sekarang. Tetapi janganlah lihat kekurangannya, lihat kelebihannya! Sirkulasi udara yang baik, intensitas cahaya yang cukup, suasana yang bersih, dan masih banyak kelebihan lainnya. Ruangan dirumahku yang menjadi tempat favoritku adalah kamarku sendiri. Di kamarku aku bisa melakukan aktivitas yang kusenangi : tidur, menggambar, main game, dan lain-lain. Kalau misalnya suasana rumahku sedang “panas” dalam makna konotasi, aku tinggal masuk kamarku dan clingg! Suasananya langsung adem! Ada tempat favorit ada juga tempat yang kubenci, kamar mandi. Awalnya aku tidak benci kamar mandi. Kebencianku bermula ketika waktu itu aku tidur dengan nyenyaknya karena semalam terjaga hingga larut. Paginya dengan mata yang masih setengah tidur, aku dibangunkan oleh ibuku dan langsung disuruh mandi karena harus berangkat sekolah. Kejadian itu terus berulang sehingga kebencianku pada kamar mandi makin menjadi-jadi. Memang aku yang salah bukan kamar mandinya, tapi ya mau bagaimana lagi? Sudah terlanjur tidak suka.

Aku dan keluargaku tinggal di rumah yang berada di Kota Solo. Sebenarnya tidak di Kota Solo persis, tetapi perbatasan antara Kota Solo dan Kabupaten Sukoharjo. Tetapi aku lebih mengenal daerah Solo ketimbang Sukoharjo, ya meskipun tidak mengenal 100%. Solo memiliki kebudayaan dan masyarakat yang unik. Masyarakat Solo mayoritas adalah orang Jawa, dan itulah yang menyebabkan mereka unik. Orang Solo terkenal sering berbohong tetapi juga sering minta maaf.

Dikatakan berbohong karena mereka tidak jujur pada diri mereka sendiri. Contohnya jika seseorang terinjak kakinya oleh orang lain mereka akan berkata “O mboten nopo-nopo” yang dalam Bahasa Indonesia artinya “Oh tidak apa-apa”, padahal dalam hati mereka menjerit kesakitan. Contoh lain adalah ketika seseorang dibuat menunggu, ketika orang yang ditunggu datang dia akan bertanya “Lama ya menunggunya?” dan orang yang menunggu akan berkata “Tidak kok, baru saja datang” padahal dia sudah menunggu dari 2 jam lalu. Tetapi kebohongan yang seperti itu tidak selalu berdampak negatif, mereka belajar untuk mengendalikan perasaan mereka, mereka belajar untuk menahan amarah, dan mereka belajar agar tidak perlu terjadi keributan untuk hal yang sepele.

Dikatakan sering minta maaf karena mereka bisanya selalu mengawali kalimat dengan kata minta maaf. “Nyuwun ngapunten, daleme si X teng pundi nggih?” Mohon maaf, rumahnya si X dimana ya? “Nyuwun ngapuro, saiki jam piro ya?” Mohon maaf, sekarang jam berapa ya? “Nuwun sewu, badhe liwat.” Mohon maaf, numpang lewat. Percaya atau tidak, itu sudah menjadi kebiasaan di masyarakat Solo.

Selain itu ada lagi sifat orang Solo yang suka makan. (Pengecualian untuk saya). Jika Anda berkunjung di kota Solo, hampir setiap pinggir jalan ada warung atau tempat untuk makan. Saking ekstrimnya bahkan jika Anda bangun jam 1 pagi lalu lapar, Anda tidak akan kesusahan untuk mencari tempat makan. Tidak percaya? Silahkan berkunjung ke Kota Solo dan coba sendiri J. Dan jika Anda berkunjung ke Kota Solo, jangan lupa membawa oleh-oleh khas dari Solo yaitu serabi. Entah mengapa aku tidak terlalu suka dengan yang namanya serabi. Tetapi ya seperti kata pepatah “bola di matamu belum tentu bola di mata orang lain” jadi ya Anda harus mencobanya sendiri, karena siapa tahu serabi itu akan terasa enak di lidah Anda.

Kesimpulannya, dari keluarga, rumah, dan kotaku semuanya memiliki keunikannya masing-masing dengan kelebihan dan kekurangannya. Keluarga yang harmonis, rumah yang sederhana, dan kota yang berisi dengan hal-hal yang unik. Bisa dikatakan aku memiliki kehidupan yang berada di garis normal, tidak merasa kekurangan, namun tidak banyak kelebihan. Dengan kesimpulan ini bisa membuatku belajar lebih bersyukur karena Tuhan telah menempatkan aku disini. Meskipun begitu aku tidak ingin berhenti disini saja. Aku juga ingin menjelajah tempat-tempat lain dan merasakan keunikannya tersendiri. Aku yakin suatu saat mimpiku itu akan terwujud, jadi untuk sekarang ini aku akan terus berusaha dan tidak akan berhenti bermimpi. Jangan berhenti bermimpi! 

 

Zainal Muttakin: Apa Yang Ingin Kuraih Dalam 2-3 Tahun Kedepan

Oleh Zainal Muttakin, SMA Negeri 1 Pontianak, Kalimantan Barat

Zainal Muttakin, demikian nama yang diberikan oleh orang tua saya 16 tahun silam. Sekarang ini saya bertempat tinggal di Pontianak, ibukota provinsi Kalimantan Barat, tempat saya dilahirkan serta menimba ilmu dari Sekolah Dasar (SD) sampai sekarang ini, yaitu Sekolah Menengah Atas (SMA).

Saya lahir dari orang tua yang tidak berpendidikan tinggi. Ibu saya hanya menyelesaikan pendidikannya sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP), sedangkan ayah saya tidak tamat SD. Walaupun orang tua saya tidak berpendidikan tinggi, mereka menginginkan saya agar bisa lebih baik dari mereka, yaitu mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya, karena mereka sangat peduli terhadap pendidikan anaknya.

Saat ini, saya duduk di bangku SMA kelas XI (sebelas) di SMA Negeri 1 Pontianak. Sebenarnya saya tidak termasuk anak yang kutu buku. Namun, sehari-hari saya menyempatkan diri untuk mengulang pelajaran di sekolah. Alhamdulillah, sejak SD sampai sekarang ini saya selalu masuk peringkat tiga besar dikelas.

Menyadari akan pentingnya pendidikan, saya mengimpikan mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya dalam 2-3 tahun ke depan. Begitu juga harapan orang tua saya, agar anaknya dapat melanjutkan pendidikannya ke universitas atau perguruan tinggi, walaupun ekonomi orang tua saya dapat dikategorikan pas-pasan. Masalah jurusan yang ingin saya pilih pun saya masih ragu, jurusan apa yang tepat untuk saya. Karena cita-cita saya ingin menjadi arsitek, jurusan yang dapat saya ambil yaitu arsitektur. Kemampuan matematika saya di atas rata-rata dan saya juga gemar berhitung. Selain matematika, kemampuan menggambar saya juga tidak buruk. Itulah alasannya saya lebih cenderung memilih jurusan arsitektur.

Berbicara tentang universitas apa yang ingin saya pilih, itu sangat berat dilihat dari keadaan ekonomi orang tua saya yang pas-pasan dan mahalnya biaya pendidikan sekarang ini. Dalam hati kecil saya ingin melanjutkan pendidikan saya ke universitas yang terbaik. Saya harus mewujudkan impian saya tersebut, bagaimana pun caranya. Saya sangat mengharapkan mendapatkan beasiswa dari universitas nanti, seperti yang saya dapatkan sekarang ini, yaitu “Scholarship For Indonesia”. Selain “Scholarship for Indonesia”, saya juga sering mendapatkan beasiswa-beasiswa sejak SD. Karena dengan beasiswa tersebut, dapat meringankan beban orang tua saya.  Orang tua saya pun menginginkan yang terbaik untuk saya dan mereka mendukung penuh atas impian saya,

Mungkin hanya itu yang ingin saya raih dalam 2-3 tahun ke depan. Untuk meraih impian tersebut, diperlukan usaha yang keras, seperti belajar lebih giat lagi dan diiringi oleh doa, serta tidak lupa meminta restu oleh orang tua, karena tanpa restu orang tua, segala yang kita lakukan akan sia-sia. Manusia hanya bisa berencana, akan tetapi Allah yang memutuskan. Demikian esai ini saya tulis dengan sejujur-jujurnya. Terima kasih.

 

550true dots bottomright 400true true 1000http://www.ipavoices.com/wp-content/plugins/thethe-image-slider/style/skins/white-square-1
  • 10000 fade true 60 bottom 30
    Slide1
    Penerima beasiswa scholar4id saat tamasya di Garden by The Bay, Singapura. Dari kiri ke kanan, Wida, Jessica, Yosua, Zainal, dan Hedi (photo: scholar4id).
  • 10000 fade true 60 bottom 30
    Slide2
    Saat studi banding di SIM University (Photo: scholar4id).
  • 10000 fade true 60 bottom 30
    Slide3
    Workshop menulis IPA Voices yang dilaksanakan di National University of Singapore (NUS) (Photo: scholar4id).
  • 10000 fade true 60 bottom 30
    Slide4
    Budi Yanto terlihat bersemangat ketika memberikan workshop menulis bersama IPA Voices (photo: scholar4id).
  • 10000 fade true 60 bottom 30
    Slide5
    Saat bertemu dengan para donatur di Singapura (Photo: scholar4id).

Adik-adik kami di Indonesia: Hedi, Jessica, Wida, Yosua, dan Zainal; teruslah berjuang untuk meraih impianmu. Bagikanlah ilmu yang kalian dapatkan ke teman-teman lainnya sehingga kita semua bisa belajar dan bergerak bersama menuju masa depan yang cerah.

Terima kasih saya ucapkan kepada Budi Yanto dan Tony Sugiarta dari IPA Voices, dan juga tim scholar4id yang dipimpin oleh Dimas H. Priyawan atas pelaksanaan workshop menulis ini. Semoga berguna dan bisa membuka hati teman-teman lainnya di Singapura, mari bantu anak-anak Indonesia di setiap kesempatan yang kita miliki.

Program beasiswa scholar4id dan juga cara-cara kontribusi selengkapnya bisa dibaca lewat situs: http://scholar4id.org/. Untuk bertanya lebih lanjut tentang program ini, silakan isi formulir di bawah.

Captcha:
10 + 13 =

HTML tutorial