Pilkada Jakarta: Ronde Kedua akan Dimulai!
Tanggal 20 September 2012 akan menjadi hari yang penting bagi warga Jakarta. Untuk kedua kalinya, pesta demokrasi pemilihan gurbernur akan digelar.
Sebagai pengingat, berdasarkan berita harian Kompas (“Jokowi Ahok Pemenang Pilkada Putaran Pertama”, 19 Juli 2012), berikut adalah hasil resmi perhitungan suara KPU (Komisi Pemilihan Umum) dari keenam pasang calon gurbernur DKI Jakarta pada putaran pertama:
- Jokowi-Ahok; memperoleh suara sebanyak 1.847.157 atau sebesar 42,60 persen
- Foke-Nara; memperoleh suara sebanyak 1.476.648 atau sebesar 34,05 persen
- Hidayat-Didik; memperoleh suara sebanyak 508.113 atau sebesar 11,72 persen
- Faisal-Biem; memperoleh suara sebanyak 215.935 atau sebesar 4,98 persen
- Alex-Nono; memperoleh suara sebanyak 202.643 atau sebesar 4,67 persen
- Hendardji-Riza; memperoleh suara sebanyak 85.990 atau sebesar 1,98 persen
Hasil di atas menunjukkan bahwa pasangan Jokowi-Ahok dan Foke-Nara yang memenuhi syarat untuk kembali berlaga di putaran kedua.
Bagaimana peta kekuatan masing-masing calon pasangan?
Pasangan Foke-Nara yang berada di posisi kedua memperoleh jumlah suara yang cukup jauh berbeda dibandingkan pasangan Jokowi-Ahok di putaran pertama. Namun meskipun demikian, semenjak Juli hingga September ini, pasangan Foke- Nara mampu memperoleh dukungan dari beberapa partai politik besar.
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pada tanggal 11 Agustus 2012, menyatakan secara resmi dukungannya terhadap pasangan Foke-Nara (Kontan: “PKS Resmi Mendukung Foke-Nara”, 11 Agustus 2012). Hal ini sangat menarik karena pasangan yang diusung oleh partai ini yaitu Hidayat-Didik, sempat dikabarkan akan berkoalisi dengan Jokowi-Ahok (Viva News: “Usai Nyoblos, HNW didatangi Jokowi”, 11 Juli 2012).
Selain PKS, Partai Golkar juga menyatakan dukungan resminya kepada Foke-Nara pada tanggal 5 Agustus 2012 (Kompas: “Golkar Resmi Dukung Foke-Nara”, 5 Agustus 2012). Dukungan partai-partai besar kepada Foke-Nara seakan-akan memberikan angin segar kepada pasangan ini yang dikabarkan akan kalah telak pada putaran kedua.
Bagaimana dengan kubu Jokowi-Ahok? Pasangan ini masih tetap setia diusung oleh Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Hal yang menarik adalah, walaupun dukungan elit politik di negeri ini minim terhadap Jokowi-Ahok, banyak hal-hal yang tidak disangka-sangka yang menjadi senjata penguat Jokowi-Ahok dalam medan pertempuran ini.
Seperti contoh, munculnya game “Jokowi Selamatkan Jakarta”, atau munculnya video Youtube dengan menggunakan lagu One Direction: “Jokowi and Basuki – what makes you beautiful by One Direction [parody]. Dan yang terakhir adalah adanya Flashmob yang dilakukan oleh 2000 orang lebih di Bundaran HI sebagai bentuk dukungan terhadap Jokowi Basuki pada 16 September 2012 (Kompas: Ribuan Pasukan Kotak-Kotak “Flash Mob” di Bundaran HI, 16 September 2012).
Dan Pertarungan yang berlanjut
Dalam demokrasi tentunya akan terus terlihat pertarungan sengit antar calon untuk merebut kursi DKI-1. Walau pada Pilkada ini, beberapa serangan terlihat sangat frontal dan malah berujung kepada hate-speech.
Seperti contoh adalah ketika Rhoma Irama, ketika memberikan ceramah di Masjid Al-Isra, Tanjung Duren, Jakarta Barat (Republika: “Bang Haji: Umat Islam Dilarang Keras Pilih Pemimpin Kafir”, 6 Agustus 2012) yang menyerukan Umat Muslim untuk memilih pemimpin yang seiman.
Kampanye yang membawa jargon SARA ini menyebabkan Rhoma Irama diperiksa Panwaslu (Panitia Pengawas Pemilu) selama satu jam (Kompas: “Rhoma Irama Diperiksa Satu Jam oleh Panwaslu”, 6 Agustus 2012).
Dan penutup dari seluruh rangkaian Pilkada DKI Jakarta ini adalah debat antara kedua pasangan yang disiarkan oleh Metro TV pada tanggal 16 September 2012. Debat tersebut saling memberikan gambaran kedua pasangan secara gamblang dan sangat jujur. Anda bisa menyaksikan rekaman dari debat tersebut di sini: http://www.metrotvnews.com/read/newsprograms/2012/09/16/14263/206/Debat-Cagub-DKI-Jakarta
Siapakah yang akan menjadi pemenang?
Jika saya boleh berpendapat, diperkirakan pasangan Jokowi-Ahok akan memperoleh kemenangan di Pilkada DKI Jakarta ini. Walau beberapa hasil survei yang beredar di berbagai media di tanah air menunjukkan hasil yang berimbang, saya memiliki beberapa alasan untuk mengatakan Jokowi-Ahok memliki peluang yang besar untuk memperoleh kemenangan.
Salah satu factor adalah kemenangan pasangan Jokowi Ahok di putaran pertama yang memberikan dampak yang signifikan terhadap perolehan suara. Di putaran pertama, pasangan ini memperoleh 1,8 juta suara dan mengungguli pasangan Foke-Nara sekitar 400 ribu suara. Walaupun begitu, ada kemungkinan besar pasangan Foke-Nara memperoleh tambahan 500 ribu suara dikarenakan dukungan PKS. Tetapi tidak melupakan bahwa, banyak pemilih Alex-Nono dan Faisal Basri yang mengerahkan suaranya ke Jokowi-Ahok (Tempo: “Pendukung Faisal dan Alex Alihkan Suaranya ke Jokowi”, 16 September 2012).
Berdasarkan informasi tersebut, saya membuat simulasi sederhana untuk menghitung perolehan suara kedua pasangan dengan mempertimbangkan faktor perpindahan suara, pasangan Jokowi-Ahok diperkirakan menang dengan perolehan suara sebesar 54,02%.
Faktor terbesar yang juga mempengaruhi suara adalah jumlah pemilih muda yang mendominasi Pilkada DKI kali ini. Jumlah pemilih muda yang diperkirakan 2 juta jiwa (Koran Jakarta: “Pemilih Pemula Dinilai Miliki Peran Besar”, 22 Juli 2012) atau sekitar 50% dari total pemilih dalam Pilkada DKI kali ini. Para pemilih pemula yang tertarik dengan slogan Jokowi-Ahok “Jakarta Baru” memang membutuhkan politisi yang segar dan berjiwa muda. Strategi dari pasangan Jokowi-Ahok pun terlihat sangat mengarah ke para pemilih ini dan efeknya pun luar biasa seperti munculnya video parodi dengan menggunakan lagu One Direction hingga Flashmob yang melibatkan masyarakat.
Walau begitu masih banyak faktor-faktor lain yang tentunya akan mengubah hasil prediksi ini.
Kesimpulan
Berdasarkan observasi sederhana, kedua pasangan cagub ini memiliki metode yang berbeda dalam meraih suara. Pasangan Foke-Nara lebih menggunakan cara-cara tradisional dengan pendekatan politis pada kelompok-kelompok masyarakat tertentu, spanduk-spanduk, dan orasi yang sangat kental dengan nuansa elitis.
Di sisi lainnya, pasangan Jokowi-Ahok menggunakan metode yang agak berbeda. Pasangan ini juga menggunakan kampanye tradisional seperti spanduk dan orasi, tetapi dengan sedikit sentuhan yang berbeda. Kemunculan Jokowi pada acara TEDx untuk mempresentasikan konsep Jakarta Baru berhasil menyentuh hati para pemuda. Gaya Ahok yang gaul pun tidak luput untuk menarik perhatian dari para pemilih pemula ini.
Bagi saya, pilkada DKI ini benar-benar mencerminkan situasi yang sangat berbeda dengan pemilihan-pemilihan lainnya. Antusiasme warga muda yang haus akan perubahan memberikan warna yang sangat berbeda dalam blantika politik Indonesia. Hal ini pun juga menuntut para politisi-politisi yang hendak berlaga pun untuk mengubah strategi menjadi lebih bersahabat dengan warga muda. Karena untuk beberapa tahun ke depan, Indonesia akan didominasi oleh penduduk yang berusia 39 tahun ke bawah (BKPM: “http://www3.bkpm.go.id/contents/general/8/demographics”)
Sebagai penutup, ada satu hal yang hendak saya sampaikan. Saya sebagai warga Jakarta juga sangat mengharapkan perubahan lebih baik bagi Jakarta dan itu tidak akan selesai dengan pilkada saja. Siapapun gurbenurnya, masalah di Jakarta tidak akan selesai, selama kita masih suka buang sampah sembarangan atau melanggar lampu merah. Jakarta hanya akan menjadi lebih baik jika kita mau bersama-sama merawatnya.
Mudah-mudahan momen Pilkada ini bisa mengingatkan warga Jakarta untuk saling berdaya bersama untuk membangun Jakarta menjadi lebih baik.
Selamat memilih warga Jakarta!







