Advertisement:

Hary Tanoesoedibjo: butuh keberanian untuk menjadi entrepreneur

Bagi orang-orang yang gemar mengikuti perkembangan industri media di Indonesia, nama Hary Tanoesoedibjo tentunya sudah tidak asing lagi. Pria kelahiran Surabaya, 26 September 1965 ini tak lain adalah Presiden Direktur PT Media Nusantara Citra (MNC), Tbk , sebuah grup  usaha besar penyelenggara jasa media yang memayungi beberapa channel  televisi  terpopuler di Indonesia seperti RCTI dan MNC TV.

Pada hari Sabtu, 14 Juli 2012 yang lalu di Singapura, Hary Tanoesoedibjo berkesempatan untuk memberikan sebuah dialog singkat mengenai perjalanan karirnya sebagai seorang entrepreneur, yang dikemas dalam tema Professionals to Entrepreneurs: Challenges and Opportunities. Acara ini terselenggara berkat kerjasama antara Indonesian Professionals' Association (IPA), Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Singapura, dan komunitas Rajawali 7. Ruang Riptaloka KBRI Singapura yang menjadi tempat berlangsungnya acara pun, dipadati oleh warga Indonesia baik yang berada di Singapura maupun Malaysia.

Pria yang bisa dijuluki sebagai Rupert Murdoch versi Indonesia ini mengawali dialognya dengan memaparkan bagaimana dia memulai karirnya dari nol. Ia mengaku bahwa selepas menamatkan kuliahnya di bidang keuangan di sebuah universitas di Kanada, ia sudah memutuskan untuk memulai usahanya sendiri. Didorong oleh kecintaannya pada dunia pasar modal, ia langsung mendirikan Bhakti Investama pada tahun 1989, sebuah perusahaan brokerage saham, tepat setelah  menyelesaikan studi Masternya di Kanada. Keputusan ini diakuinya memerlukan kesiapan mental yang sangat kuat, apalagi saat ia menjaminkan rumahnya untuk memperoleh modal usaha.

“Menjadi seorang entrepreneur itu butuh keberanian. Diperlukan mental baja dan semangat untuk jangan pernah berhenti belajar untuk menjadi wirausahawan sukses,” ujarnya.

Hary juga memaparkan bahwa Bhakti Investama sebenarnya bermula dari sebuah perusahaan kecil. Namun, saat krisis ekonomi melanda di tahun 1998, disitulah ia dan Bhakti Investama dihadapkan pada sebuah titik balik.

“Ketika krisis tahun 1998 itu, harga aset dan perusahaan murah-murah. Jadi, saya banyak membeli aset, termasuk rumah saya saat ini di Kebayoran Baru dan juga mengakuisisi RCTI,” terangnya.

Bagi pria yang memiliki lima anak ini, krisis dapat menjadi sebuah kesempatan tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Dari titik itu jugalah usahanya mulai berkembang dengan pesat hingga saat ini.

“Saat ini fokus bisnis saya berada di empat sektor utama, yaitu media, batubara, properti, dan finansial. Untuk sektor media sendiri, saat ini kita memiliki 14 P Channel, 34 radio, koran, dan TV lokal.”

Berbicara mengenai tantangan yang dihadapi saat berbisnis di Indonesia, Hary menekankan pentingnya melihat sebuah masalah sebagai sebuah kesempatan tersendiri dalam kacamata bisnis. Ia mengakui bahwa dirinya adalah seorang strong believer akan Indonesia. Menurutnya, ada beberapa alasan mengapa Indonesia merupakan sebuah ladang bisnis yang menjanjikan yang akan suatu saat nanti menjadi salah satu ekonomi utama dunia. Salah satu alasan untuk ini adalah bergesernya kekuatan ekonomi dunia dari negara-negara barat ke negara-negara Asia. Pergeseran ini adalah momentum yang sangat tepat bagi Indonesia untuk memperkokoh kedudukannya sebagai kekuatan ekonomi dunia baru, terlebih lagi dengan melihat potensi sumber daya alam, iklim dan cuaca, serta struktur populasi Indonesia yang saat ini didominasi oleh usia produktif sekaligus kelas menengah yang juga aktif mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui konsumsi domestik.

Selain itu, Hary juga menggaris bawahi fenomena menarik di dunia politik yang belakangan muncul ke permukaan, terutama sejak pemilihan kepala daerah DKI Jakarta belakangan ini. Munculnya pemilih baru yang sebelumnya enggan menyuarakan hak pilihnya merupakan salah satu indikasi semakin meningkatnya tingkat pendidikan serta partisipasi aktif masyarakat Indonesia dalam membawa perubahan di tanah air.

Opportunity yang ada di Indonesia itu banyak sekali. Sekarang tinggal masalah bagaimana kita memanfaatkan opportunity yang ada tersebut,” jelas Hary masih berkaitan dengan masalah peluang bisnis di Indonesia.

“Ada beberapa bidang yang berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia, di antaranya adalah bidang yang berkaitan dengan consumer related goods, internet penetration atau online games dan social network, serta bidang infrastruktur, khususnya pembangunan akses jalan dan pelabuhan.  

Selain itu, jumlah pengusaha di Indonesia juga masih sangat minim, kurang dari 1% dari jumlah populasi Indonesia. Padahal, setidaknya kita membutuhkan 2% pengusaha untuk maju. Maka dari itu, tidak ada kata terlambat dan jangan khawatir kalau mau jadi pengusaha. Yang penting kita mau belajar untuk membangun kebiasaan yang baik, mempunyai goal atau tujuan yang jelas, dan stay focus dengan apa yang kita jalani sekarang,” tambahnya.

Hary juga sempat bercerita sedikit tentang kisahnya beradaptasi dari seorang bankir menjadi seorang pebisnis ulung di dunia media, khususnya televisi.

“Orang dulu meragukan saya, apa saya bisa mengatur perusahaan televisi padahal saya sama sekali tidak memiliki pengalaman di bidang itu. Kuncinya itu mau belajar dan tetap fokus. Setelah saya mengakuisisi sebuah perusahaan televisi swasta, saya lalu mulai belajar dengan terlibat di studionya secara langsung. Bahkan, saya juga menerbitkan peraturan bahwa semua pengeluaran harus ditandatangani presiden direktur. Dengan tandatangan bukti pengeluaran-pengeluaran tersebut, saya jadi tahu bagaimana work flow-nya. Dua bulan kemudian sudah mengerti,” jelas pengusaha yang juga mengaku dirinya cukup workaholic dan sering bekerja sampai pukul dua dini hari semasa muda.

Kesimpulannya, kunci keberhasilan menjadi seorang pengusaha bagi seorang Hary Tanoesoedibjo terletak pada kemampuan kita untuk memilih tujuan hidup yang kita mau, stay focus, dan berusaha sebaik mungkin untuk mencapai tujuan itu. Jangan mudah tergoda dengan kesempatan-kesempatan  lain yang bisa mengalihkan kita dari tujuan utama kita. Prinsip ini lah yang selalu ditekankan pengusaha Indonesia yang juga banyak berkawan dengan pengusaha-pengusaha papan atas negara lain ini.

Comments

comments

HTML tutorial