Advertisement:

Diaspora Kita: Peneliti Muda Indonesia Dampingi Presiden Singapura ke Pertemuan Nobel

Satu lagi kabar gembira datang dari diaspora Indonesia di luar negeri. Kali ini, dari seorang peneliti muda asal Semarang, Nicholas Agung Kurniawan. Peneliti yang baru berusia 26 tahun ini mendapatkan kesempatan untuk menghadiri ‘Lindau Nobel Laureate Meeting’ bersama para penerima hadiah Nobel pada Juli yang akan datang.

Berkat prestasinya, pemuda lulusan SMA Kolese Loyola Semarang tahun 2003 ini juga ditunjuk untuk mendampingi Presiden Singapura, yang akan mengetuai perwakilan Singapura dalam International Day di Lindau Meeting tersebut. Hal ini tentunya menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi bangsa Indonesia, terutama di tengah maraknya pemberitaan negatif mengenai tanah air kita belakangan ini.

Nicholas atau yang akrab disapa Nicho, adalah seorang peneliti yang baru saja lulus dari program PhD, Doctor of Philosophy (setara S3) di National University of Singapore (NUS), Singapura. Sejak kedatangannya di Singapura pada tahun 2003, Ia berkesempatan belajar di NUS dengan beasiswa yang diraihnya mulai dari jenjang S1 sampai S3. Seusai jenjang studinya di NUS pada tahun 2012, Nicho bekerja sebagai postdoctoral researcher di FOM Institute AMOLF, sebuah institusi riset terkemuka di Belanda.

Lindau Nobel Laureate Meeting sendiri adalah sebuah pertemuan bersejarah yang bermula pada tahun 1951. Acara ini bertujuan untuk mempertemukan ilmuwan-ilmuwan muda berprestasi dari seluruh dunia dengan para penerima hadiah Nobel. Pertemuan tahun ini didedikasikan untuk bidang fisika dan akan mendatangkan puluhan penerima Nobel termasuk Dan Shechtman (Pemenang Nobel Kimia 2011) dan Brian Schmidt (Pemenang Nobel Fisika 2011).

 

IPA Voices berkoresponden dengan Nicho melalui surat elektronik, berikut hasil wawancara kami

IPA Voices (IV): Banyak teman-teman Anda mengklaim bahwa Anda adalah siswa berprestasi mulai  jaman SMA di Semarang dan kuliah di Singapura, boleh cerita sekilas mengenai perjalanan anda dari Semarang sampai melanjutkan kuliah ke Singapura?

Nicholas A. Kurniawan (NK): Saya lahir dan dibesarkan di Semarang. Sebenarnya sampai SMA kelas dua pun saya sama sekali tidak terpikir untuk kuliah di luar negeri. Waktu di kelas tiga, setelah melihat teman-teman mulai mencari-cari peluang kuliah di luar negeri, saya iseng-iseng mendaftar untuk kuliah di Singapura, yaitu di Nanyang Technological University (NTU) dan National University of Singapore (NUS). Puji Tuhan, dua universitas itu menerima saya dengan beasiswa. Tentu saja peluang ini tidak saya sia-siakan, walaupun itu berarti saya harus berpisah dari keluarga saya untuk pertama kalinya.

IV: Jarang sekali pemuda Indonesia yang memutuskan untuk berkarir sebagai peneliti, apa motivasi anda untuk melanjutkan PhD?

NK: Sebenarnya modal utama, dan mungkin satu-satunya, untuk menjadi peneliti adalah rasa keingin-tahuan. Saya memang selalu tertarik di bidang ilmu pengetahuan, terutama untuk mencoba mengerti hal-hal yang sebelumnya belum dipahami manusia. Riset, seperti di jenjang PhD, memberi saya kesempatan untuk menyelami beberapa dari pertanyaan-pertanyaan itu.  

IV: Apa alasan anda melanjutkan S3 di NUS Singapura?

NK: Waktu saya memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang S3, saya merasa bahwa minat riset saya secara khusus adalah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan pendekatan dan perspektif dari berbagai sisi ilmu pengetahuan sekaligus, seperti misalnya fisika, biologi, kimia, dan matematika. Kebetulan belum lama sebelumnya di Singapura didirikan NUS Graduate School for Integrative Sciences and Engineering (NGS), sebuah institusi penelitian yang menawarkan riset di bidang semacam itu. Saya beruntung bahwa aplikasi saya diterima dan saya bisa melakukan penelitian saya untuk S3 di NGS.

IV: Bisa ceritakan sekilas mengenai minat riset Anda?

NK: Sebenarnya minat saya sangat luas; tidak mudah untuk memberikan jawaban singkat. Tetapi semasa S3, saya memilih untuk fokus meneliti tentang mekanik jaringan biopolimer. Tubuh manusia, di dalam dan di luar sel, tersusun oleh jaringan-jaringan biopolimer seperti kolagen dan actin dengan keunikan dan mekanisme masing-masing. Saya mencoba meneliti basis fisika dan kimia dari mekanik jaringan-jaringan biopolimer ini dengan eksperimen, pendekatan teoritis, dan simulasi komputer. Penerapan dari penelitian ini misalnya untuk membantu mencari penanda kanker secara fisik, obat-obatan yang mampu mencegah penyebaran kanker, dan mendukung penelitian diferensiasi sel punca.

IV: Lindau Nobel Laureate Meeting merupakan sebuah ajang bergengsi dimana banyak ilmuwan-ilmuwan yang pernah menerima hadiah Nobel akan hadir, apa saja harapan yang ingin Anda dapatkan dari pertemuan ini?

NK: Pertama, saya tentu ingin mendengar pengalaman-pengalaman para ilmuwan besar tersebut. Melalui cerita-cerita pribadi mereka, saya berharap untuk mendapat insight dan semangat baru dalam melanjutkan perjalanan riset saya sendiri. Kedua, saya berharap untuk belajar tentang pendapat-pendapat mereka mengenai situasi riset saat ini dan yan akan datang, dan bagaimana hasil-hasil riset dapat diterapkan untuk kebaikan manusia. Ketiga, dengan berinteraksi dengan rekan-rekan peneliti dari berbagai negara, baik para pemenang Nobel maupun peneliti-peneliti muda seperti saya, saya berharap untuk mendapat teman-teman baru dan memperluas network saya di komunitas ilmiah.

IV:  Benarkah anda ditunjuk oleh Singapura untuk menemani Presiden Singapura, Tony Tan Keng Yam, pada pertemuan ini, apa tugas anda?

NK: Kebetulan kontingen Singapura akan meng-host acara International Day pada Lindau Meeting kali ini, dan Presiden Tony Tan akan memimpin dan mewakili Singapura, dengan didampingi oleh delapan peneliti muda dari Singapura yang telah terpilih, termasuk saya. Di acara International Day itu sendiri, kontingen Singapura akan menyuguhkan beberapa acara, baik bersifat ilmiah maupun hiburan.

IV: Apa cita-cita Anda untuk masa depan, akankah balik ke Indonesia untuk melakukan penelitian? 

NK: Setelah fase postdoctoral research, saya berencana untuk memasuki dunia akademia dengan menjadi dosen dan peneliti. Mengenai lokasi, terus terang saya belum tahu. Dunia riset berkembang dengan sangat cepat, jadi melakukan penelitian yang up-to-date dan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan itu penting. Tentu saja melakukan penelitian di Indonesia itu ideal bagi peneliti Indonesia manapun, namun dengan keadaan sekarang sepertinya belum tersedia sarana-prasarana yang memadai, terutama di bidang ilmu pengetahuan alam.

IV: Terpilihnya Anda merupakan suatu hal yang patut dibanggai oleh bangsa Indonesia, apakah Anda punya harapan untuk Indonesia di masa depan terutama dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan riset ilmiah?

NK: Harapan saya tentu saja agar riset ilmiah di Indonesia bisa digalakkan. Dari satu sisi, saya berharap pemerintah dapat memberi pull factor. Ini bisa berupa banyak hal, seperti memberi kemudahan finansial untuk pendidikan tingkat awal, lanjut, maupun penelitian, pengenalan awal tentang dunia riset, award pada peneliti-peneliti berprestasi, bantuan untuk mendapatkan buku-buku dan jurnal ilmiah berkualitas, dan lain-lain. Di lain sisi, saya juga berharap agar ada perubahan mentalitas dari masyarakat Indonesia, supaya kita meninggalkan budaya ‘instan’ dan budaya ‘pop’ dan lebih mengerti pentingnya pengetahuan di zaman sekarang.

IV: Adakah saran untuk pemuda Indonesia yang tertarik untuk menjadi peneliti?

NK: Menurut saya peneliti itu bukan sebuah profesi. Kalau seseorang memang punya passion untuk meneliti, dia pasti akan maju terus apapun halangan dan rintangan yang dialaminya. Kalau seseorang tidak punya passion untuk meneliti, dia pasti akan menyerah di tengah jalan. Riset itu susah, tapi sangat fulfilling, jadi punya passion itu penting. Jadi satu-satunya saran saya adalah cobalah melakukan penelitian dan cari tahu apakah kamu memang punya passion untuk penelitian.

Comments

comments

HTML tutorial