Advertisement:

Pahlawan Devisa, Bagaimana Masa Depanmu?

Ini adalah artikel kelima dari seri liputan khusus “Indonesian Domestic Workers” yang diterbitkan oleh IPA Voices dan didedikasikan untuk para PLRT Indonesia yang bekerja di Singapura dan seluruh dunia. Untuk artikel-artikel lainnya silahkan kunjungi www.ipavoices.com/indonesian-domestic-workers/

Abstrak: PLRT adalah profesi yang dianggap tidak mempunyai masa depan oleh kebanyakan orang. Akan tetapi, kenyataannya banyak sekali cerita sukses di balik pengorbanan mereka. Di artikel terakhir dari seri “Indonesian Domestic Workers” ini akan menceritakan motivasi dan cerita sukses pahlawan devisa kita. Dan juga, akan diulas masa depan industri penyediaan PLRT Indonesia di Singapura dengan adanya kebijakan-kebijakan baru dari pemerintah.

Merayakan ulang tahun di luar negeri. Di Singapura, para PRLT mendapatkan kesempatan untuk belajar di Universitas Terbuka yang dilaksanakan oleh KBRI Singapura (Foto: Wulan Wicaksono).

Oleh Prasetya Dwicahya,

Setelah segala hal dipertaruhkan, kujejakkan kaki di negeri asing. Ku berharap menjadi insan yang lebih baik bagi keluarga dan ku berharap anakku bisa menjadi lebih baik daripada diriku.

Mungkin kalimat pembuka di atas yang akan selalu menjadi motivasi dan alasan mengapa banyak saudara-saudara kita rela bertaruh segala-galanya untuk bekerja di Singapura. Alasan keterbatasan dan ketidakstabilan ekonomi di tempat tinggal mereka masing-masing yang membuat negeri Singapura ini begitu menarik untuk menjadi tempat mengais rezeki. Tetapi selama apakah saudara-saudara kita ini akan terus menjadi pengais rezeki di negeri ini? 

Harapan

Di artikel-artikel sebelumnya, kita sudah mengetahui bagaimana seluruh sistem yang disebut “Industri PLRT” bekerja. Begitu banyak aktor yang berperan membuat industri ini semakin rumit dan semakin sulit untuk mencari akar permasalahan yang mengusik hati kita. Mengesampingkan system dan birokrasi, jika kita harus melihat sisi humanis dari rangkaian perjalanan para PLRT kita, mereka sangat mengharapkan perubahan hidup ke arah yang lebih baik dengan memilih untuk menjadi PLRT di negeri asing. 

Beberapa di antara saudara-saudara kita, usaha keras mereka telah membuahkan hasil yang luar biasa. Salah seorang pekerja yang kami temui mengaku bahwa dirinya telah menjadi orang yang cukup berada secara ekonomi dan berhasil menyekolahkan anaknya hingga ke Hong Kong. Ada juga yang sudah bersiap-siap meninggalkan Singapura selamanya untuk kembali ke kampungnya untuk menjadi seorang pengusaha. 

Suasana belajar di Universitas Terbuka yang di adakan oleh KBRI Singapura (Foto: Wulan Wicaksono).

Memang kebanyakan dari pekerja yang kami wawancarai menyatakan bahwa menjadi PLRT bukanlah tujuan hidup mereka. Motivasi terbesar melakukan ini adalah untuk menghidupi keluarga mereka (karena kebanyakan adalah orang tua tunggal). Jika mereka diberikan kesempatan untuk bekerja di bidang yang lain, dengan tingkat penghasilan yang sama, tentunya mereka akan senang hati mengambil kesempatan tersebut. Namun ironisnya kesempatan untuk berprofesi di tanah air menjadi hal yang langka bagi mereka. 

Selain itu, saudara-saudara PLRT kita ini juga banyak yang puas dengan keamanan dan kenyamanan yang ada di Singapura. Terlepas dengan berbagai isu miring dan kasus yang sering memberatkan posisi TKW Indonesia di Singapura, kebanyakan masih sangat nyaman dan puas dengan kehidupan di sini. Tidak sedikit dari mereka yang merasa enggan jika harus pulang ke kampung halaman. 

Kebijakan Pemerintah

Tetapi pemerintah berkata lain, mereka berencana untuk menghentikan pengiriman PLRT Indonesia ke luar negeri. Kebijakan ini tentunya akan memberikan dampak pada Industri penyediaan PLRT di Singapura. Ada agen, yang kami wawancarai, yang menyatakan keberatan atas rencana pemberlakuan kebijakan baru ini. Menurut agen tersebut, sangat disayangkan jika menghentikan pengiriman PLRT ke luar negri, terutama ke Singapura. 

Tak hanya itu, pemerintah juga menyusun rencana untuk mendidik ulang para PLRT ini, yang nantinya diarahkan untuk menjadi caregiver (pengasuh orang jompo). Informasi tentang rencana ini kami peroleh ketika mewawancarai Dubes baru Indonesia untuk Singapura yaitu Bapak Andri Hadi. Hal ini didasari oleh semakin bertambahnya permintaan terhadap pengurus orang jompo, seiring dengan pertambahan penduduk lanjut usia di Singapura. 

Maksud dari kebijakan baru ini adalah untuk mencoba meningkatkan taraf hidup dari para TKW menjadi lebih baik dan menghilangkan stigma buruk bahwa menjadi pembantu adalah pekerjaan yang hina. Sebuah langkah yang semestinya patut kita apresiasi. 

Dan pada Akhirnya

Nasib dan kebahagiaan dari saudara-saudara kita yang bekerja di sektor ini sangat bergantung pada diri mereka masing-masing. Dan kami yakin hanya ada satu kalimat yang ada dalam benak mereka untuk membuat tetap bertahan di perantauan ini: “Kerja keras demi kehidupan yang lebih baik.” 

Sebagai saudara setanah air, seyogyanya kita mendukung dan setidaknya memberikan rasa hormat kepada saudara-saudara kita ini. Karena secara tidak langsung pekerjaan yang mereka kerjakan telah membantu meningktakan taraf hidup generasi muda Indonesia untuk bisa berkontribusi di masa depan.

Dengan rangkaian kebijakan dan system yang ada, demand dari market, dan impian dari tiap individu tenaga kerja, kita masih sangat sulit untuk meramalkan apa yang akan terjadi dengan kisah PLRT ini. Apakah suatu saat akan hilang? Apakah semua akan kembali ke Indonesia? Ataukah keadaan akan tetap sama ke depannya? Hanya waktu yang akan menjawab itu semua.

Prasetya Dwicahya adalah seorang mahasiswa di National University of Singapore (NUS). Ia tertarik dalam kewirausahaan dan pembangunan masyarakat yang berkelanjutan. Email: prasetya.dwicahya@ipavoices.com

Tim IPA Voices seri artikel PLRT Indonesia adalah Prasetya Dwicahya, Maulana Bachtiar, Stephanie Hardjo, Dimas H. Priawan, Theresia Sembiring, Yorivan Iliadi, dan Tony Sugiarta.

Comments

comments

HTML tutorial