Jejak pahlawan devisa Indonesia di Singapura
Artikel ini kami dedikasikan untuk para PLRT Indonesia yang bekerja di Singapura dan seluruh dunia.
Oleh Maulana Bachtiar,
Singapura dikenal sebagai kota yang cukup populer bagi orang Indonesia. Tidak hanya sebagai tempat untuk berwisata, tetapi juga untuk belajar dan mencari nafkah. Dan salah satu pencari nafkah tersebut adalah yang sering kita kenal dengan istilah Tenaga Kerja Wanita (TKW). Mungkin istilah TKW tidaklah nyaman didengar, maka istilah PLRT (Penata Laksana Rumah Tangga) lebih sering digunakan oleh masyarakat Indonesia di Singapura.
Kehadiran PLRT Indonesia memberikan corak tersendiri, baik dari aspek sosial maupun ekonomi. Besarnya pengaruh dan kontribusi para PLRT ini di aspek sosial dan ekonomi di Singapura tidaklah bisa dipungkiri. Begitu juga untuk Indonesia. Sebutan ‘pahlawan devisa’ terhadap para PLRT sering digunakan karena banyaknya kontribusi yang mereka berikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Kedatangan di Singapura
Perjalanan seorang PLRT dimulai dari sebuah pusat pelatihan di kampungnya. Tempat ini biasanya dikelola oleh berbagai agen. Banyak PLRT yang kami temui menyebut tempat ini sebagai ‘PT’, yang mungkin berasal dari singkatan Perseroan Terbatas yang dipakai pada nama-nama agen ini. Peran mereka sangatlah besar dalam proses penyaluran PLRT ke luar negeri. Mengenai agen-agen penyalur ini dan perannya, akan diperjelas di artikel kami selanjutnya.
Berdasarkan hasil survei kami yang mencakup 123 PLRT, 92% berasal dari Pulau Jawa, dengan jumlah pendatang terbesar dari provinsi Jawa Tengah, dan diikuti dari Jawa Timur dan Jawa Barat. Alasan yang dikemukan untuk menjawab kepergian mereka adalah sangat sederhana: mencari penghidupan yang lebih baik.
Walau begitu, kadang ada pula yang memberikan alasan cukup unik. “Mas, saya pernah mimpi dibisiki oleh seseorang, agar saya pergi ke PT di dekat kampung, supaya saya bisa dibawa ke Singapur untuk mencari nafkah,” tutur salah satu PLRT yang kami temui dengan suaranya yang medok merdu.
Profil PLRT di Singapura
Keberadaan PLRT Indonesia di Singapura sangatlah signifikan. Karena banyaknya jumlah PLRT yang terlihat sangat muda, orang-orang sering pangling. Bahkan salah satu teman Singapura saya pernah bercerita perihal pengalaman pertama dirinya saat bertemu dengan pembantunya, “Meskipun pada kartu identitasnya disebutkan umurnya sudah lebih dari 20, tampangnya jelas sekali lebih muda dari wanita yang berumur lebih dari 20!”
Hasil survei kami menunjukan bahwa rata-rata umur PLRT di Singapura adalah 32 tahun. Yang termuda kami temui mengaku berumur 19 tahun dan yang paling senior berumur 53 tahun. Seorang yang sudah tua sering dianggap lebih berpengalaman dalam bekerja sebagai PLRT, namun belum tentu mereka mempunyai latar belakang pendidikan yang baik.
Ada anggapan bahwa banyak PLRT Indonesia tidak berpendidikan. IPA Voices ingin mencari fakta sesungguhnya dengan menanyakannya langsung kepada mereka. Berdasarkan hasil survei, mayoritas (78%) para PLRT telah menyelesaikan jenjang sekolah paling sedikit selama 9 tahun sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sedikit dari mereka yang hanya berbekal pendidikan Sekolah Dasar (SD) atau tidak pernah sekolah. Oleh karena itu, jika ada masalah terkait PLRT, kita tidak bisa selalu menyalahkan terlalu rendahnya tingkat pendidikan mereka karena masih ada aspek lain yang perlu ditelusuri.
Mungkin salah satu penyebabnya adalah aspek perbedaan budaya antara majikan dan PLRT di Singapura. Perbedaan ini bisa membuat seorang PLRT tidak cocok dengan tata cara bekerja di Singapura.
Profil PLRT Indonesia yang bekerja di Singapura dalam bentuk infografis (oleh William Suryadiputra). Klik tanda panah untuk melihat slide berikutnya.
Erratum:
Mohon maaf, terdapat kesalahan label infografis “tingkat pendidikan” di versi awal. Label infografis telah diperbaiki di versi ini. Terima kasih atas perhatiannya. – Kepala Editor IPA Voices”
Profil majikan di Singapura
IPA Voices juga melakukan survei mengenai majikan dari PLRT Indonesia di Singapura. Rata-rata umur majikan dari 123 responden adalah 47 tahun, lebih tinggi dari rata-rata umur PLRT yang kami temui. Beberapa PLRT juga bekerja dengan seorang majikan yang sudah lanjut usia. Di sini, mereka diharapkan untuk bisa juga berperan menjadi pengasuh orang jompo.
Jika dibandingkan dengan majikan di Jakarta yang berasal dari berbagai macam daerah, majikan-majikan di Singapura juga sedemikian rupa. Namun selain dari penduduk asli Melayu, jauh lebih banyak dari mereka merupakan keturunan pendatang seperti dari Tiongkok dan India. Budaya keturunan Tiongkok mendominasi rumah tangga di Singapura dan ini memberikan suatu perbedaan budaya antara seorang PLRT dengan majikannya. Oleh karena itu, tingkat kesuksesan kehidupan kerja seorang PLRT di Singapura akan sangat tergantung dengan adanya pengertian yang mendalam perihal perbedaan budaya antara ia dan majikannya.
Tinggal di rumah susun dan apartemen Singapura
Situasi tempat tinggal di Singapura jauh berbeda dengan di Indonesia dan ini akan memberikan tantangan bagi seorang PLRT yang baru datang. Kebanyakan dari majikan di Singapura tinggal di daerah yang terdiri dari bangunan-bangunan tinggi yang dikelola pemerintah atau pihak swasta dan bersifat padat penduduk meskipun tertata dengah rapih.

Mayoritas penduduk di Singapura tinggal di apartemen bersubsidi yang dikelola oleh pemerintah. (Photo: TS)
‘Permukiman-permukiman vertikal’ ini terdiri dari gedung-gedung yang bisa sampai 50 lantai tingginya. Banyak rumah majikan yang terletak di lantai atas sehingga tidak memungkinkan seseorang untuk membersihkan jendelanya. Ini sangat memprihatinkan karena kadang terdengar berita PLRT Indonesia yang terjatuh dan wafat selagi membersihkan jendela di apartemen majikannya. Terlebih lagi ketika seorang PLRT harus tidur di kamar yang sama dengan majikannya dikarenakan terbatasnya ruang yang tersedia di rumah. Hal-hal ini sangatlah berbeda dengan kondisi PLRT yang bekerja di Jakarta atau kota besar lainnya di Indonesia.
Beberapa PLRT yang kami temui juga sempat mengakui akan peraturan-peraturan yang dikenakan oleh sang majikan seperti contohnya larangan untuk menggunakan ponsel pribadi. Salah satu PLRT bercerita bahwa “Saya tidak boleh megang HP di bulan-bulan awal saya mulai kerja”. Banyak juga yang tidak diperbolehkan keluar rumah pada hari kerja karena banyak majikannya yang takut kalau kebebasan yang diberikan bisa membawa masalah. Masalah yang dimaksud mungkin adalah masalah sosial yang cenderung akan timbul jika banyak PLRT mendapatkan kesempatan untuk bercengkerama dan berkumpul di sekeliling permukiman lokal. Satu hal yang sangat mereka takuti adalah terjadinya kehamilan pada seorang PLRT yang sedang bekerja di tempat mereka.
Pekerjaan PLRT

Seperti halnya di Jakarta, seorang PLRT di Singapura turut bekerja untuk membantu menjalankan roda rumah tangga (Photo: LNC).
Ketika ditanya tentang apa saja yang harus dikerjakan, kebanyakan menjawabnya dengan sambil bergurau, “Jelas lah ya mas, kita harus masak, nyuci dan gosok pakaian, bersihin dan jaga rumah.”
Perihal besarnya gaji yang diperoleh: bisa dibilang sedikit, bisa juga dibilang banyak. Dari data survei kami, rata-rata upah PLRT Indonesia di Singapura adalah 457 Dollar Singapura. Jumlah ini termasuk kecil jika dibandingkan dengan upah pekerja professional di Singapura. Akan tetapi dalam kurs Rupiah, S$457 yang kurang lebih sama dengan Rp. 3 Juta adalah jumlah yang tidak sedikit. Apakah penghasilan ini seimbang dengan pekerjaan dan pengorbanannya? Hal ini akan dibahas lebih lanjut dalam artikel kami selanjutnya.
Hari-hari bahagia untuk Pahlawan Devisa
Ketika IPA Voices melakukan kajian ini, banyak Pahlawan Devisa yang kami temukan pada hari liburnya di hari Minggu di Paya Lebar yang terletak di sisi timur Pulau Singapura. Di sinilah IPA Voices melaksanakan banyak wawancara dengan PLRT Indonesia untuk belajar lebih banyak tentang kehidupan mereka. Tiap Minggu, ratusan PLRT memenuhi sebuah komplek pertokoan bernama City Plaza untuk berinteraksi dengan sesama, membicarakan tentang situasi pekerjaan, majikan ataupun melepas rasa rindu akan kampung halaman.
Bagi mereka, selain untuk bertemu dengan kerabatnya, City Plaza merupakan sebuah tempat serba ada yang sangat penting. Mereka bisa membeli pulsa ponsel dan juga yang tidak kalah pentingnya, mengirim uang ke Indonesia. Banyak pemberi jasa remitansi membuka cabang di sini.
Menjelang sore hari, para PLRT ini pun bergegas balik ke rumah majikannya yang berada di berbagai pelosok kota Singapura. Di sana mereka akan sekali lagi membantu menjalakan roda rumah tangga majikannya. Para PLRT akan bekerja dari pagi sampai malam. Merekalah pahlawan yang akan menyiapkan makanan, mencuci piring dan juga merawat rumah banyak orang di Singapura. Keberadaan mereka bisa memberi para majikan sebuah keringanan hidup, sehingga mereka berkesempatan untuk memfokuskan tenaganya ke hal lain. Tanpa PLRT, keadaannya bisa kacau dan mungkin perekonomian negara akan terpengaruh.
Mereka bukan saja pahlawan devisa untuk Indonesia, karena mereka juga merupakan para pahlawan tanpa tanda jasa bagi penduduk Singapura. Dan mereka belum menerima pengakuan yang semestinya didapatkan. Bagaimanakah cara untuk menghargai mereka? Mungkin ikut serta dalam memberikan rasa aman dan menghargai hal-hal yang dilakukan oleh saudara-saudara kita bisa meringankan beban penderitaan mereka. Karena yang dibutuhkan seorang PLRT saat ini hanyalah ‘mendapatkan perlakuan yang adil dan keadilan itu sendiri’.



