Dubes baru untuk Singapura: KBRI akan selalu menjadi ‘rumah’ untuk seluruh WNI di Singapura
KBRI akan selalu berusaha menjalin hubungan yang baik dengan IPA dan komunitas lainnya. Mengutip dari beliau, KBRI akan selalu menjadi rumah bagi seluruh warga Indonesia di Singapura.

Duta Besar Indonesia untuk Singapura yang baru, Andri Hadi.
Singapura, 22 Februari 2012.
Pada hari Sabtu (18 Feb 2012) Indonesian Professionals’ Association (IPA) berkesempatan untuk bertemu dengan Duta Besar (Dubes) Andri Hadi. Acara informal ini diadakan dalam rangka temu kenal antara perwakilan komunitas professional Indonesia dengan duta besar yang baru.
Kontribusi kaum profesional muda untuk tanah air

Dubes Andri Hadi ketika diwawancara oleh jurnalis IPA Voices, Prasetya Dwicahya.
Hal-hal yang dibahas termasuk proyek-proyek IPA seperti IPA Social Innovation and Entrepreneurship Awards (SOLVE) yang diadakan pada Desember 2011 lalu. Selain itu IPA, yang sekarang diketuai oleh Yoga Dirga Cahya, juga menceritakan tentang kegiatan Career Day dan pelatihan ketrampilan untuk Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT).
Dubes Andri Hadi mengaku bahwa beliau sangat senang dengan kehadiran profesional Indonesia yang tetap berkontribusi kepada negara dan ini merupakan suatu hal yang luar biasa. Ketika ditanya perihal rencana kerja KBRI, Dubes bercerita perihal salah satu misi KBRI yaitu peningkatan kerjasama TTI (ekonomi, perdagangan, tourism dan investasi), perlindungan warga negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia termasuk memberikan pelatihan kepada PLRT menjadi caregiver, profesi perawat untuk orang-orang lanjut usia. Menurutnya Singapura, yang diprediksi akan membutuhkan sekitar 15.000 caregiver pada tahun 2020, hanya memiliki 4,000 pekerja pada saat ini. Hal ini membuka peluang kerja bagi para PLRT di masa depan.
KBRI akan selalu menjadi ‘rumah’ untuk seluruh WNI di Singapura
Selain itu, Dubes juga menyatakan perihal kesiapan KBRI untuk selalu membantu IPA dalam menjalankan acara-acaranya. KBRI-pun akan selalu berusaha menjalin hubungan yang baik dengan IPA dan komunitas lainnya. Mengutip dari beliau, KBRI akan selalu menjadi rumah bagi seluruh warga Indonesia di Singapura.
Wawancara IPA Voices dengan Duta Besar Indonesia untuk Singapura, Bapak Andri Hadi.
Setelah acara pertemuan tersebut, IPA Voices memiliki kesempatan untuk mewawancara Dubes Andri Hadi. Berikut kami sampaikan hasil wawancara tersebut (Klik anak panah untuk menggeser slides ke kanan/kiri).
Left
Right
IPA Voices (IV) - Bisa diceritakan secara singkat tentang diri bapak dan pengalaman-pengalaman Bapak?
Dubes Andri Hadi (AH) - Saya lahir di Bandung, 12 Februari 1960. Masa kecil saya banyak dihabiskan di Bandung dan Cirebon, di mana saya menyelesaikan SMA saya dan melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Padjajaran, Bandung. Lulus dari S1 pada tahun 1986, saya mulai berkarir di Kementrian Luar Negeri mulai tahun 1987 sampai dengan sekarang. Saya juga berkesempatan untuk mengenyam pendidikan S2 di School of Law, Monash University, Australia. Karir diplomatik saya dihabiskan di daerah Amerika Serikat dengan jabatan tertinggi wakil duta besar di Washington D.C dari tahun 2005-2007. Jabatan terakhir saya sebelum di Singapura adalah menjadi Dirjen Informasi Kementrian Luar Negeri dari tahun 2007- 2011.
IV - Program kerja apa yang telah bapak canangkan?
AH - Program kerja yang dicanangkan memiliki 2 prioritas. Yang pertama adalah berkaitan dengan ekonomi dan yang kedua adalah berkaitan dengan perlindungan warga Indonesia di Singapura. Dalam program kerja yang berkaitan dengan ekonomi, kita tahu bahwa Singapura memiliki potensi sangat besar dan sekarang merupakan salah satu mitra dagang Indonesia yang terbesar. Jumlah Multi-National Company di Singapura pun berjumlah sekitar 5.000. Dan tentu tidak kita lupakan bahwa investasi Singapura di Indonesia mencapai 5,1 Milyar USD. Tentu ini potensi yang sungguh-sungguh perlu diperhatikan dan dimanfaatkan dengan baik.
Sedangkan untuk prioritas kedua yang berupa perlindungan adalah bagaimana meningkatkan pelayanan publik yang lebih baik kepada masyarakat Indonesia di Singapura yang berjumlah sekitar 200 ribu jiwa.
IV - Program kerja apa yang akan dilanjutkan lagi dari kepengurusan sebelumnya?
AH - Saya kira Pak Wardana (Duta Besar sebelumnya), telah melakukan pekerjaan yang luar biasa baik. Dari sini kita tinggal melanjutkan hal-hal baik yang telah ditinggalkan sebelumnya. Seperti masalah sertifikasi ISO. Kemarin dilaksanakan audit eksternal, untuk mengecek apakah semua fungsi di KBRI telah memiliki ISO, menjalankan standardisasi tersebut dengan baik dan nyatanya semua lulus dengan cepat dan kami masih bisa menggunakan sertifikasi ISO tersebut untuk 3 tahun ke depan. Hal lain yang akan ditingkatkan adalah implementasi paspor biometrik yang akan terhubung secara langsung dengan sistem keimigrasian di Jakarta. Singapura akan menjadi salah satu dari sedikit kantor perwakilan Indonesia di luar negeri yang memiliki program paspor biometrik ini.
IV - Bagaimana pandangan bapak terhadap isu PLRT dan perjanjian ekstradisi?
AH - Untuk isu PLRT, KBRI tentu akan berusaha untuk terus memberikan perlindungan. Ini juga terkait dengan prioritas kedua tadi yang berkaitan dengan perlindungan dan pelayanan publik. Kami terus berencana untuk peningkatan kemampuan para PLRT melalui kursus-kursus dan jalur-jalur pendidikan formal seperti Kejar Paket A, B, C hingga Universitas Terbuka. Salah satu hal baru yang hendak diarahkan adalah bagaimana para PLRT ini bisa meningkatkan tingkat pekerjaannya dengan menjadi perawat orang jompo yang sekarang sangat dibutuhkan di Singapura hingga 2020.
Untuk isu ekstradisi, memang benar belum ada tapi ini bukan berarti tidak ada kerjasama antar bidang penegakan hukum antara Indonesia dan Singapura walaupun masih bersifat sektoral. Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) di Indonesia menjalin kerjasama yang erat dengan Corrupt Practice Investigation Bureau (CPIB). Kepolisian Indonesia pun juga menjalin kerjasama yang erat dengan Kepolisian Singapura. Begitu pula dengan Defence Cooperation Agreement (DCA). Tanpa itupun kerjasama militer antar angkatan dalam ketentaraan Indonesia dan Singapura pun tetap terjalin dengan baik.
IV - Bagaimana pandangan bapak terhadap komunitas Indonesia di Singapura dan harapan ke depannya terhadap komunitas-komunitas ini?
AH - Komunitas Indonesia di Singapura merupakan komunitas yang sangat vibrant dan beragam. Terdiri dari lintas suku, agama, dan kelas. Dan ini menurut saya menjadi contoh mini Indonesia yang ideal di mana kerjasama antar komunitas yang sangat baik terjalin di sini. KBRI sangat berharap bahwa sinergi dan kerjasama terus terjalin dan tentunya KBRI sangat mendukung agar semua ini tetap berjalan dengan baik. Contoh dari sinergi tersebut adalah seperti teman-teman IPA paparkan tadi adalah adanya acara Career Day yang diadakan antara IPA dengan PPIS (Perhimpunan Pelajar Indonesia Singapura). Bagi saya komunitas Indonesia di SIngapura adalah perwujudan dari ‘Indonesia Incorporated’ yang sangat baik dan kita idamkan yang terjadi karena sinergi harmonis antar komunitas.
Kontributor: Prasetya Dwicahya (Wawancara & artikel), Johannes Ardiant (Foto) dan Maulana Bachtiar (Editor).
Comments
comments