Advertisement:

‘SOLVE Awards’ di penghujung akhir 2011 – sebuah kepedulian masyarakat Indonesia perantau terhadap tanah air

Hujan deras yang mengguyur Singapura pada tanggal 3 Desember 2011 lalu tidak menyurutkan semangat masyarakat Singapura untuk menghadiri Malam Penghargaan IPA Social Innovation and Entrepreneurship (SOLVE) Awards 2011 yang diselenggarakan di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura.

Oleh Alika Tuwo, Maulana Bachtiar dan Tony Sugiarta,

Hujan deras yang mengguyur Singapura pada tanggal 3 Desember 2011 lalu tidak menyurutkan semangat masyarakat Singapura untuk menghadiri Malam Penghargaan IPA Social Innovation and Entrepreneurship (SOLVE) Awards 2011 yang diselenggarakan di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura. Ratusan tamu yang terdiri dari warga negara Indonesia maupun komunitas local Singapura, termasuk tokoh sosial Budi Soehardi dan Tri Mumpuni, menghadiri ajang yang diprakarsai oleh Indonesian Professionals’ Association (IPA) ini.

SOLVE Awards 2011 merupakan sebuah inisiatif dari komunitas Indonesia di Singapura yang bertujuan untuk menghargai dan mempromosikan para inovator dan pengusaha sosial—berasal baik dari Singapura atau Indonesia—yang usahanya membawa dampak positif di Indonesia.

Social entrepreneurs Indonesia naik ke kancah regional

Pada malam tersebut, tiga inisiator sosial dari Indonesia diundang ke Singapura untuk menerima penghargaan atas aktivitas sosial mereka. Mereka adalah Johan Purnama, Diana Margareth Johannis dan Alanda Kariza, yang masing-masing telah menelurkan solusi-solusi inovatif untuk mengatasi berbagai masalah sosial di Indonesia.

Johan Purnama, mewakili organisasi Yayasan Karang Widya, menerima penghargaan ‘IPA SOLVE Established Social Initiative Award’ atas inisiatif The Learning Farm – sebuah inisiatif sosial yang bergerak dalam bidang pemberdayaan dan pendidikan pemuda dengan fokus pertanian organik di Cianjur, Jawa Barat.

Menurut Johan Purnama, acara ini dapat “membuat networking, salah sesuatu kekuatan yang tidak bisa dinilai dengan uang”.

Hal senada diutarakan oleh Diana Margareth Johannis, perwakilan dari Wahana Visi Indonesia NTT, yang inisiatifnya Market Facilitation bertujuan untuk membuat sistem permasaran produk pertanian yang lebih terbuka.

Diana berharap agar “teman-teman yang ada di Singapura ikut membawa perubahan bagi Indonesia”.  Inisiatif yang terfokus di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, tersebut telah meraih penghargaan ‘IPA SOLVE Emerging Social Initiative Award’.

Inisiatif terakhir, Indonesian Youth Conference, meraih penghargaan ‘IPA SOLVE People’s Favorite Social Initiative Awards’. Alanda Kariza, seorang aktivis muda dan salah satu pendiri inisiatif tersebut berbagi bahwa ia merasa sangat senang karena “bisa sharing tentang apa yang anak-anak Indonesia lakukan ke teman-teman di Singapura”.

Kesempatan belajar dari tokoh internasional asal Indonesia

Selain tiga sosial inovator tersebut, hadir juga dua orang tokoh sosial Indonesia yang kegiatannya telah dikenal baik oleh masyarakat internasional: Budi Soehardi dan Tri Mumpuni. Mereka hadir selaku pembicara utama pada malam penghargaan tersebut.

Budi Soehardi, pendiri Roslin Orphanage, menggunakan kesempatan ini untuk berbagi suka-dukanya mengelola panti asuhan yang berada di Kupang itu.

Menurut Budi Soehardi, yang juga adalah salah satu dari CNN Top 10 Heroes 2009, untuk membuat perubahan kita perlu “dream big start small do it fast”. Beliau bermaksud agar kita bisa mempunyai ‘mimpi besar, mulai kecil-kecilan tetapi dikerjakan dengan cepat’ dalam melakukan sebuah perubahan.

Hal senada diutarakan oleh Tri Mumpuni, seorang pengubah sosial Indonesia yang inisiatifnya telah mampu menerangi banyak desa terpencil di berbagai penjuru Indonesia. “Semua orang mempunyai otak dan hati… kita harus gabung pikiran dengan hati agar bisa menciptakan sesuatu yang baik dan berkesinambungan” ungkap sosok yang dijuluki ‘Sang Penerang Desa’ dan pendiri yayasan Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA) tersebut.

IPA SOLVE Awards 2011 dan kepedulian masyarakat Indonesia perantau terhadap tanah air

IPA SOLVE Awards merupakan inisiatif pertama yang melibatkan masyarakat Indonesia di Singapura, dari kalangan profesional, mahasiswa hingga pengusaha bisnis untuk memobilisasi dukungan bagi para wirausahawan dan inovator sosial di Indonesia. Melalui IPA SOLVE Awards, para social entrepreneur Indonesia diharapkan dapat lebih dikenal di kancah regional.

Sejak acara ini diluncurkan pada tanggal 13 Agustus 2011 lalu di Singapura, 25 nominasi dari berbagai pelosok Indonesia telah di terima. Bidang yang ditekuni para social entrepreneur ini sangat beragam, mulai dari gerakan pemuda, pemberdayaan petani, ekonomi kreatif, hingga pendidikan toleransi antar umat beragama. Sebagian besar dari mereka berusia di bawah 30 tahun; bahkan peserta termuda berusia 14 tahun dan masih duduk di bangku SMP.

Panel juri IPA SOLVE Awards yang terdiri dari Tri Mumpuni, Pramoda Dei (Konsultan McKinsey & Co.) dan Sirish Kumar (Ketua Rotary Youth Social Entrepreneurship Challenge Singapura) memilih penerima penghargaan dari kategori “Emerging Social Initiative” dan “Established Social Inititative”.

Selain dari itu, dari tanggal 7 hingga 17 November 2011, anggota publik diberi kesempatan untuk menunjukkan dukungan serta memberi suara untuk 25 inovator sosial melalui website www.solve.sg. Lebih dari 8,500 suara masuk untuk memberi dukungan kepada para pahlawan sosial Indonesia.

“Ini adalah inisiatif masyarakat, sehingga keberhasilan inisiatif-inisiatif ini bergantung pada partisipasi dan dukungan dari masyarakat. Kami berharap kemitraan dan dukungan dari acara ini dapat membantu mendorong pertumbuhan pengusaha sosial dan inovator di Indonesia, juga memperluas serta mempertahankan dampak yang sudah ada dari hasil usaha mereka,”  ujar Andriani Winoto, Ketua Acara SOLVE Awards 2011. “Kami menyerukan agar semua orang ikut mengambil tindakan dan berpartisipasi.”

IPA SOLVE Awards 2011, diselenggarakan oleh IPA, sebuah organisasi nirlaba yang terdaftar dan terbentuk di Singapura sejak tahun 1998 serta memiliki misi untuk meningkatkan jaringan antara para tenaga profesional dan komunitas Indonesia lainnya di Singapura.

Ajang ini diluncurkan pada tanggal 13 Agustus 2011 lalu di Singapura dengan pembicara Dr. Ir. Lukita Dinarsyah Tuwo, MA (Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional RI), Dr. Anies Baswedan (Rektor Universitas Paramadina dan Ketua Umum Indonesia Mengajar), dan Jack Sim (social entrepreneur kawakan Singapura, CEO World Toilet Organization).

Comments

comments

HTML tutorial