Advertisement:

Apresiasi bukan Atensi!

Oleh Mariana Widjaja,

“Google has become a verb”
“iPod, iPhone, iPad, …”

“Google, iPhone, what’s next?”

Sebelum tahun 2011, tanggal 5 Oktober menjadi hari yang identik dengan Hari ABRI di kepalaku. Namun sejak tahun ini mungkin tidak lagi. Dengan meninggalnya seorang tokoh IT – jika tak lazim kusebutkan dengan istilah “public figure” : Steve Jobs, menangislah dunia. Kabar duka ini datang tak lama setelah rumor peluncuran iPhone 5 mencapai titik puncaknya di pasaran, seakan tak sabar meramaikan pasar guna memuaskan dahaga para pengguna high gadget.

Aku sendiri sebenarnya tidak begitu terpengaruh. Kalau salah satu unsur berita turut ditentukan dengan adanya kedekatan berita dengan si pembaca, aku kurang terusik dengan hal tersebut. Mungkin fenomena konsumerisme yang terjadi lebih menyita perhatianku. Fenomena dimana orang-orang tak berpikir panjang merogoh kocek Rp. 50.000 untuk secangkir kopi yang habis dalam hitungan menit atau jam, tapi berpikir dua kali karena takut ditipu pengemis di jalanan, yang dengan uang sebesar itu bisa dipakai makan lima hari. Ketika negara miskin, justru punya penduduk yang konsumeris. Ironis! Ketika orang-orang yang sebenarnya tidak paham benar fungsi gadget mereka, namun tetap membelinya demi gengsi belaka. Miris. Lebih parah lagi, ketika orang-orang ramai berkomentar karena rumor yang membuat mereka heboh ternyata tidak benar adanya. Publik seakan merasa tertipu dengan kehadiran iPhone 4S dan bukannya iPhone 5 seperti rumor yang beredar. Sadarkah mereka bahwa itu sebabnya diberi nama “rumor” dan bukannya berita?

Belum berhenti sampai di situ, jejaring sosial Facebook ramai dibanjiri opini publik mengenai meninggalnya Steve Jobs. Ada orang-orang yang menyanjungnya sebagai inovator, ada yang memandangnya sinis, ada yang membagikan kata-kata motivasi dari seorang tokoh besar ini, ada yang turut berkabung atas kepergian seorang yang disebut-sebut turut mengubah dunia.  Ya, apel yang menjadi inspirasi nama Apple, Inc. bahkan disejajarkan dengan apel dalam kisah Adam dan Hawa serta sejarah Newton.

Berlebihan saja kurasa. Ketimbang mengomentari meninggalnya Steve Jobs yang nun jauh di sana atau sibuk membandingkan kontribusinya terhadap kemajuan teknologi dunia dengan orang-orang lain, kenapa kita tidak sibuk memikirkan para ilmuwan di Indonesia yang gajinya tak lebih besar daripada guru SD? (referensi Artikel Kompas 25/10/11) Mereka jelas-jelas lebih melarat daripada para guru di sekolah internasional. Apa ini namanya orang-orang yang peduli pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi? Jika Anda berani bilang bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi sungguh berarti, pertanyaannya sekarang seberapa besar Anda memperhatikannya? Benarkah Anda sungguh peduli pada proses di baliknya atau sekedar mengagumi hasilnya saja?

Kematian Steve Jobs sebagai pengembang aplikasi jauh lebih menyita perhatian publik dibanding Dennis Ritchie sebagai pencipta Unix operating system pelopor bahasa program C yang sifatnya justru fundamental.

Kematian Steve Jobs sebagai pengembang aplikasi jauh lebih menyita perhatian publik dibanding Dennis Ritchie sebagai pencipta Unix operating system pelopor bahasa program C yang sifatnya justru fundamental.

Kadang, pandangan serta pemikiran kita justru terkonsentrasi pada hal-hal besar, pada tokoh-tokoh besar yang sebenarnya tidak membutuhkan itu. Mereka membutuhkan apresiasi, bukan perhatian. Yang diperlukan di sini adalah bagaimana kita semua turut ambil andil untuk kemajuan iptek. Bagaimana mau maju kalau kesejahteraan sumber daya manusianya saja tidak terjamin? Bagaimana mau maju kalau bidang Science masih menjadi fakultas yang dipertanyakan oleh orang-orang: “Kalau lulus, mau jadi apa?”? Tak heran jadinya kalau seorang mahasiswi Applied Mathematics di NUS harus terpaksa menjawab fakultasnya dengan “Bisnis Matematika” ketika ditanya belajar apa di Negeri Singa. Ya, harus kita akui, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) di Indonesia sendiri kurang mendapat tempat jika dibandingkan dengan fakultas yang lain. Beberapa orang mungkin bahkan tak tahu apa kepanjangannya. Beberapa orang lainnya memberi label sebagai fakultas buangan bagi orang-orang yang tidak diterima di fakultas lain yang menjadi pilihan pertama mereka, mengingat passing grade Fakultas MIPA yang cukup rendah. Kenapa? Karena apa yang terlihat menjanjikan di mata banyak orang mungkin hanyalah hal-hal praktis yang berurusan langsung dengan materi. Padahal mereka sendiri menuntut adanya perkembangan teknologi, iri dengan negara lain yang lebih (cepat) maju. Demand outcome without any learning process. Wow, what a nonsense!

Memang sangat disayangkan, kemajuan iptek di Indonesia terhambat lantaran anggaran dan fasilitas yang minim, proses hak paten yang berbelit-belit, dan kondisi riset yang tidak kondusif. Pernah ada masa-masa di mana pemerintah membudayakan penelitian lewat gencarnya lomba-lomba riset atau karya ilmiah. Namun seperti banyak program pemerintah yang lain, akhirnya lomba-lomba itu banyak yang tak diketahui kelanjutannya. Kalaupun berhasil mencetak para pemenang berbakat, dari mereka yang berbakat ini hanya sedikit yang berminat menjadi peneliti karena beragam alasan. Tidak hanya itu, beberapa cabang ilmu tertentu juga tidak tersedia pengembangannya di Indonesia sehingga para ilmuwan di bidang tersebut harus melanjutkan pendidikan di luar negeri, tidak ada pilihan lain. Situasi ini pun menjadi celah manis bagi negara-negara luar yang lebih banyak memberi perhatian pada bidang science guna membidik orang-orang piawai dari Indonesia. Mereka dipastikan akan mendapat tunjangan yang lebih menjanjikan, sokongan fasilitas riset yang memadai, dan segalanya yang jauh lebih baik. Kalau sudah begini, bagaimana mungkin sepenuhnya disalahkan kepada penerima beasiswa dari luar negeri? Setiap orang pasti menginginkan yang terbaik, pasti menerima peluang yang terbaik bagi pengembangan diri dan passion-nya.

Maka sekali lagi, jelaslah bahwa sebenarnya hal-hal semacam ini justru lebih menuntut perhatian kita, atensi kita dan bukannya berita duka dari orang besar yang sebenarnya sudah cukup diberi apresiasi.

Comments

comments

HTML tutorial